Berbagi kisah dan rasa

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title
Tampilkan postingan dengan label Flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash fiction. Tampilkan semua postingan

Antologi lagi :D

Antologi ini saya dapatkan dari lomba menulis yang diselenggarakan oleh salah satu penulis, yaitu Uda Agus. Berisi kumpulan cerpen dari beberapa penulis.

Meskipun  masih tergabung dalam sebuah antologi dan belum punya karya solo, tapi tetap semangat :D
Semoga jadi pelecut semangatku untuk tetap terus belajar menulis..menulis..dan menulis
it's my world and i love writing :D

Selamat membaca. JIka masih banyak kekurangan, harap dimaklumi ya. Hehe








            Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Ia ingin berteriak dan meraung tapi tak bisa juga. Yang bisa ia lakukan hanyalah memandang jasadnya sendiri. Penuh lebam. Ia masih setengah hidup. Tak ada yang menungguinya dan melantunkan doa untuknya. Berada dalam jalur tarik menarik antara hidup dan mati.
            Ia memandang kosong. Menggigil ! penuh rasa takut. Ia menutup kedua telinganya, melindungi wajahnya dengan menutupkan telapak tangannya. Ia dipaksa kembali ke peristiwa beberapa waktu yang lalu. Isi kepalanya memuntahkan semua hal yang diingatnya.
            Sebut saja ia Sarman. Usianya belum genap tujuh belas tahun. Pribadinya sederhana dan Ia suka tersenyum meskipun seringkali orang mengerenyitkan dahi ketika kali pertama melihat parasnya. Sarman memiliki tanda lahir berupa bintik-bintik merah kehitaman yang memenuhi pipi sebelah kirinya. Mata sebelah kirinya  pun tumbuh tak sempurna. Tapi lihatlah dibalik parasnya yang sedikit menyeramkan, Sarman adalah seorang yang berotak cerdas. Lebih tepatnya, dia manusia yang selalu haus ilmu.
            Sarman tak tahu Ayah dan Ibunya karena memang Ia tak pernah mengenalnya. Ia hidup dan dibesarkan seorang nenek yang kini mulai renta. Nenek siapa, Sarman pun tak tahu. Ia tak ada hubungan darah dengannya. Tapi sungguhlah Ia merasa begitu sayang pada si Nenek. Nenek adalah penyambung hidupnya. Pusat semangat hidup Sarman.
[ Read More ]

Kenangan antologi pertama ^^



  

 Kecintaanku menulis sudah tumbuh sejak kelas enam SD dan mulai berani untuk menulis sekitar kelas satu SMP. Dari sebuah buku diary, aku belajar menulis. Hanya berupa catatan harian dan sesekali menulis puisi atau cerpen.
            aku menulis secara diam-diam. Entahlah, saat itu aku tidak percaya diri, sampai aku bertemu dua orang sahabat yang juga 'Mencintai pena'.
           Kami sering mengatakan tentang mimpi kami, sebuah impian yang mungkin untuk sebagian orang terdengar tak biasa pada saat itu. Kami terus menulis dan menulis. Kami hanya menuliskan apa yang berkelebat dalam pikiran kami, menuangkan ide dalam kepala kami menjadi sebuah suguhan yang berbeda. Mengolah kata dan kalimat.
               Saat bergabung ke dunia kerja, kebiasaanku menulis sempat terhenti dan mulai aktif kembali saat sahabatku mengajak bergabung dalam sebuah forum kepenulisan. Kami mulai mendapat banyak informasi tentang bagaimana cara agar tulisan-tulisan kami terpublikasi. Salah satu cara dengan mengikuti  lomba.
             Semangat menulis kembali bangkit dan aku mulai ikut kompetisi menulis via online. Sempat ragu dan tak punya rasa percaya diri. Begitu banyak orang berbakat di dunia kepenulisan dan aku hanyalah Si anak bawang.
Tapi aku berpikir ulang, kalau tak dicoba, kapan kita bisa tahu kemampuan kita? :)

Dan dari sebuah lomba menulis Flash fiction, aku mendapatkan antologi pertamaku yang diterbitkan oleh AG  Publishing. Sebuah moment yang melecut semangatku untuk terus belajar ^^
Sebuah tulisan yang amat sederhana dan perlu banyak perbaikan..

[ Read More ]

Gubuk Cahaya




Tulisan ini pernah saya ikutkan dalam salah satu lomba menulis, namun belum berhasil lolos :D
Tetapi meskipun begitu, saya tetap semangat menulis :D dan tulisan yang belum sempurna ini saya suguhkan sebagai bacaan untuk sahabat semua. Happy reading :D



Gemerisik pepohonan yang bertiup sayhdu dengan rona mentari yang mulai tenggelam. Saat dimana langit menjadi redup, dituntun memasuki gerbang malam dengan cahaya rembulan nan elok, engkau hadir.
Boleh saja orang menyebut tempatmu itu sebuah gubuk reyot. Tapi lihatlah dan rasakan tatkala engkau menyentuhkan telapak kakimu di lantai bambu sederhana ini. Relung hatimu akan bergetar, bahkan berguncang. Matamu dengan sendirinya akan sembab. Dan pada akhirnya, nafasmu akan tercekat. Seketika engkau akan merasa kerdil. Pulang dengan dihantui sepotong kalimat sakti yang sekiranya akan berdengung kencang di telinga, hati dan pikiranmu.
[ Read More ]

Biru



Seorang teman meminta saya untuk menulis sebuah cerita singkat. Ia mengatakan bahwa ia menginginkan kisah tentang "Biru"
Di sebuah sudut perpustakaan, saya mulai menulis. Saat mendengar kata biru, pertama kali yang saya ingat adalah warna sayap kupu-kupu Blue Morpho yang hidup di hutan amazon :) Tapi sih apa yang saya tulis nggak ada hubungannya sama kupu-kupu :D hihi.. Yowislah, disimak yuks...

Semoga bisa menjadi sebuah suguhan menarik bagi para pembaca :) 

 
Kau bertanya padaku tentang sebuah kilau, sebuah siluet dengan warna yang menurutmu amat cantik. Sebuah warna favoritmu, biru. Kala itu kau tersenyum dengan ditemani semilir harap. Bertanya tentang risau dan asa. Bagiku pertanyaanmu sungguhlah unik. Mungkin belum pernah ada yang bisa melontarkan kalimat secerdas pemikiranmu.

Kali pertama kau merona. Diterpa sebuah tiupan halus sarat makna. Saat itu kau masih belia. Tak ada ocehan cerewetmu dan gertakan galakmu. Seketika, kau bertukar tempat dengan seseorang yang bukan dirimu. Aku hampir tak mengenalimu. Kau mengganti rupamu menjadi seorang gadis anggun.
[ Read More ]