Berbagi kisah dan rasa

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title
Tampilkan postingan dengan label My journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My journey. Tampilkan semua postingan

Pemilik hati yang seluas samudra yaitu engkau, Ibu

Meskipun perayaan hari ibu sudah lewat cukup lama, tapi rasanya tidak ada kata terlambat untuk membahas tentang ibu. Bagi saya hari ibu tidaklah cukup hanya diperingati hanya dalam satu hari, karena setiap harinya adalah hari ibu. Meilhat perjuangan ibu-ibu kita dalam membesarkan anak-anaknya tentulah membuat kita sadar bahwa ibu adalah sosok yang istimewa.

Jika harus diungkapkan melalui kata, tentunya saya rasa tak akan pernah ada cukup kata untuk menuliskan betapa banyak rasa terimakasih kami untuk ibu. Kami sadar bahwa engkau memiliki hati seluas samudera. Sebuah tempat dimana kami bisa berteduh dan merasa damai. Di moment hari ibu, Pak De Guslix Galaxy, pendiri grup nulis buku bareng Pak Dek yang juga seorang purnawirawan jenderal bintang satu mengadakan kontes unggulan untuk menulis tentang ibu. Dan alhamdulillah, kini telah terbit dalam sebuah buku. Diterbutkan oleh penerbit Sixmidad, Bogor. 125 blogger berkumpul, menulis tentang ibu-ibu mereka. Sebuah persembahan yang akan menjadi kado istimewa untuk ibu.

                         

Membaca lembar demi lembar cerita yang tertuang membuat saya tersenyum sekaligus haru. Semua ibu di penjuru bumi ini memang sosok yang istimewa. Meskipun setiap ibu memiliki caranya sendiri dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya, tetapi intinya ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kehidupan anaknya. Kasih ibu tidak akan pernah putus dan terbatas. Di buku ini, kami tuangkan rasa cinta kami padamu, Bu. Meskipun kami tahu tak akan pernah ada cukup lembaran kalimat untuk bercerita tentangmu, Ibu.

Ibu, mama, umi, emak. Apapun sebutanmu, bagi kami engkau adalah pelita yang akan setia membimbing kami dalam menjalani hidup. Sekalipun rambut engkau telah memutih dan kamipun bertambah tua, bagi engkau kami tetaplah putra putri mungilmu. Kalimat bijakmu, Bu selalu menjadi obat mujarab bagi hati kami yang sedang dilanda gundah. Pun senyumanmu selalu menjadi suntikan semangat untuk kami berjuang lebih baik lagi. Hanya untukmu, Bu... Proudly present, sebuah buku. "Hati ibu seluas samudra" Judul yang apik. Sama seperti dalam kehidupan nyata, hatimu  memang seluas samudra. Bahkan lebih luas dari apa yang kita bayangkan.

                       

“Ibuku bukanlah seorang perempuan lulusan universitas dengan banyak gelar. Pun bukan seorang perempuan yang memiliki karier cemerlang di kantor. Ibuku juga bukan sesorang yang memiliki berlian sebagai pelengkap penampilannya. Namun bagi kami, Ibu adalah ratu di rumah teduh kami, gelar yang kami sematkan untuknya. Ibu adalah seorang perempuan yang berilmu luas dalam mendidik kami, dan Ibu adalah seorang perempuan sederhana dengan kekayaan hati yang tak terbatas. Seorang sahabat, perempuan yang melahirkan kami dan panutan kami dalam menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan ikhlas. I love u mom more than everything... (hal 85, Perempuan dengan senyum lembut itu, Ibuku)   

[ Read More ]

Bang bing bung nyok kita nabung

Dulu sewaktu masih lajang dan bekerja, rasanya sah saja jika menggunakan uang hasil kerja kita untuk membeli sesuatu yang kita suka. Dan kadang kala bablas :D tergiur melihat tulisan diskon yang ukurannya besar. Padahal jenis barang yang di diskon tersebut sudah kita miliki. Dalihnya “Sayang kalau nggak dibeli, mumpung lagi diskon” Pernah juga mengalami seperti saya? Hehe..apalagi perempuan sering melek diskon dan antusias jika masuk ke pusat perbelanjaan.

Saya memang bukan penggila belanja yang sanggup menghabiskan banyak uang untuk membeli barang yang harganya fantastis. Karena saya tidak sanggup untuk itu :D namun jika kebetulan sedang ada dana dan ada event sale, saya ikut mampir juga untuk membeli beberapa barang asal sesuai isi kantong. Hehe...

Perempuan oh, perempuan. Begitulah adanya kalau bicara soal belanja :D namun meskipun begitu, saya bersyukur masih punya rem untuk mengendalikan keuangan. Mama saya memang tidak pernah secara gamblang melarang saya untuk berbelanja. Tapi beliau secara halus mengingatkan saya, bahwa uang itu layaknya air yang mengalir. Jika tidak kita tampung dalam sebuah bejana, tentunya akan mengalir habis begitu saja. Perkataan mama saya itulah yang menjadi patokan saya menilai arti dari uang. Syukurlah meskipun saya senang berbelanja, tetapi saya masih bisa mengontrol diri.

                         
                                       sumber gambar: www.bapertarum-pns.co.id

Setelah delapan tahun bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan total menjadi Ibu rumah tangga. Saya ikut suami ke tempat beliau berdinas. Di sebuah kota yang jaraknya jauh dari kampung halaman. Di kota ini, saat menjalani hari sebagai seorang istri, saya banyak belajar. Pada awalnya, jujur saya sedikit bosan.  Bukan karena saya merasa pekerjaan sebagai seorang istri itu tidak menyenangkan. Melainkan karena saya merasa ada aktifitas yang hilang, yaitu bekerja dan minus penghasilan sendiri. Tapi semakin hari saya sadari, ini adalah konsekuensi yang saya pilih. Sebuah pengorbanan yang akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih berharga dan tak ternilai. Dan memang betul saya rasakan kini, mungkin jika saya masih bekerja, saya tidak akan mendapatkan hal-hal yang seperti saya dapat sekarang ini.

Mama saya mengatakan bahwa ketika dua orang memutuskan untuk menikah, maka pada saat itu pula Allah akan mencukupi rezeki orang tersebut. Jangan takut karena istri tidak bekerja lantas merasa kurang dan takut tidak tercukupi.

Jadilah saya mengerti dan saya patut bersyukur karena saya bisa banyak belajar. Sumber penghasilan kami dari gaji suami saya. Sebuah hal yang harus saya syukuri, ada pemasukan rutin tiap bulan. Suami saya mempercayakan keuangan sepenuhnya pada saya. Saat diberi amanah tersebut, saya berusaha agar bisa sebaik-baiknya mengelola. Saya mulai belajar membuat pos-pos keuangan. Anggaran belanja kebutuhan pokok, biaya listrik, pulsa handphone, dsb. Perlahan, kebiasaan saya ngiler saat melihat kata diskon pun berubah. Otak saya secara otomatis memerintahkan agar saya berpikir dua kali untuk mampir. Pikiran saya perlahan berubah, bahwa ada yang lebih menjadi prioritas dibanding sekedar belanja barang yang sudah saya miliki. Tas, sepatu? Hmm...aktifitas saya di luar rumah sudah semakin berkurang dan rasanya barang-barang tersebut masih tersimpan bagus di rak. Sesekali jika ada dana, boleh lah kita memanjakan diri membeli barang kesukaan saya dan suami. Tapi jika sering? Tekor kitaaa :D hehe

Perkataan mama saya tentang uang masih menjadi pegangan untuk saya. Saya  juga berpikir bahwa mengatur uang secara efektif itu beda halnya dengan pelit. Pandangan saya, jika pelit, si pemilik uang mungkin tidak akan pernah membelanjakan uangnya bahkan untuk kesenangan dia sendiri. Kalau efektif menurut saya, uang yang kita keluarkan tepat guna dan sesuai dengan anggaran yang ada :D hehe

Dan soal bejana tempat menampung air, saya setuju dengan mama saya. Dulu, saya melihat mama memiliki celengan tanah liat dan dan plastik yang berjejer di lemari kamar. Ndeso memang gaya menabungnya. Satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang recehan pecahan 500/1000,- dan satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang kertas yang beliau sisihkan dari sisa uang belanja. Nominalnya mungkin jauh jika dibandingkan dengan orang-orang perlente yang menabung di rekening bank-bank besar. Tetapi hal tersebut menjadi pelajaran nyata yang saya lihat. Saya sempat berpikir “kok Mama telaten banget ya nabung” Lalu mama mengatakan “Suatu saat ini akan menolongmu” 

                                     
                                   sumber gambar: http;/bobo.kidnesia.com

Dan hal itu kini menjadi sebuah kebanggaan untuk saya. Karena dari tabungan itu lah saya dan adik saya bisa bersekolah meskipun tidak sampai ke perguruan tinggi. Keluarga saya memanglah sederhana dan ekonomi keluarga terbantu setelah saya berkerja. Tetapi meskipun begitu, mama tidak sepenuhnya menggantungkan diri dari penghasilan saya saat itu. Beliau masih tetap  menabung dengan caranya. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Jangan dilihat dari nominal yang kita tabung. Tapi lihat nanti jika sudah penuh, berapa hasilnya. Itu yang mama katakan.

Dan jadilah sekarang saya mengikuti apa yang beliau lakukan. Meskipun saya tidak menabung di celengan tanah liat, saya tetap menyisihkan terlebih dahulu penghasilan suami untuk di tabung di rekening. Kebanyakan orang akan menabung saat ada sisa penghasilan. Tapi bagi saya, saya harus menyisihkan terlebih dahulu untuk menabung. Karena dengan begitu, kita akan lebih bertanggung jawab mengelola sisa uang yang ada. Dan kalau pun pada akhirnya ada keperluan mendadak, kita tidak akan terlalu pusing untuk mencari dana. Karena sebelumnya sudah ada tersimpan.

Dan soal menabung uang receh, saya juga mengikuti apa yang mama lakukan. Setiap sabtu pagi, kami berbelanja kebutuhan pokok. Saya biasa menganggarkan sejumlah uang untuk belanja kebutuhan tersebut. Dan jika ada sisa belanja, biasanya akan saya masukan ke satu dompet khusus. Bisa dikatakan, isinya recehan. Tapi seperti mama bilang, jangan lihat nominal berapa yang kita tabung. Tapi lihat nanti suatu saat recehan itu akan menolongmu :D

Bagi sebagian orang yang berpenghasilan besar mungkin tidak perlu bersusah payah seperti saya untuk mengelola uang. Tetapi bagi saya, management keuangan itu memang perlu ada dalam sebuah rumah tangga. Perlu di persiapkan dengan sebaik-baiknya. Toh, meskipun banyak uang jika tidak bisa mengelolanya, akan tetap terasa kurang. Selalu ingat prinsip uang yang seperti air. Perlu ada bejana yang menampung. Khususnya bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap tiap bulan, alangkah baiknya bijak dalam mempergunakan uang :D nggak mau kan nanti habis di tengah jalan lantas hutang sana sini? :D

Yook, dari sekarang kita mulai menabung. Ingat, jangan lihat nominal. Masih ingat kan pepatah “Sedikit demi sedikit, Lama-lama menjadi bukit” hal itu saya rasa bukan tipuan semata. Buktinya, Ibu saya yang menabung recehan pun bisa membantu ekonomi keluarga :D
                                                      sumber gambar: beritainfo.web.id

Semangat :D kalau bukan kita? Siapa lagi (Udah kayak jargon iklan ajan ih :D)
[ Read More ]

Bumi Pasundan-Tanah Rencong

            Semua yang saya jalani sekarang  layaknya sebuah mimpi. Ketika memandang keluar jendela rumah, melihat deretan atap rumah para prajurit menambah semuanya makin terasa seperti dalam cerita ketika tidur.

Saya tidak bisa menemukan letak rumah ibu yang asri dengan deretan pepohonan rimbun yang rajin di tanam beliau. Pun raut wajah orang-orang terkasih tidak bisa saya jumpai setiap detik layaknya dahulu. Ya, semua itu karena saya sudah tidak tinggal lagi bersama mereka.

Entah tepatnya berapa ribu kilometer jauhnya. Kini, saya ada di ujung barat nusantara. Tempat yang dulu hanya saya tahu dari peta saat pelajaran geografi. Seperti hal yang ajaib saya bisa ada disini. Pernah bermimpi pun tidak dan justru sekarang ini saya baru merasa seperti bermimpi.

Sejak lahir dan usia saya dua puluh enam tahun, saya tidak pernah jauh dari rumah. Saya amat mencintai kampung halaman dan tanah leluhur. Bumi parahyangan adalah tempat istimewa untuk saya. Mungkin karena belum pernah keluar terlalu jauh, jadilah tanah kelahiran menjadi tempat yang paling nyaman.

Namun akhir tahun 2013, tepatnya bulan November, saya harus meninggalkan rumah dan orang-orang tercinta. Bukan sebuah perpisahan yang menyedihkan sebetulnya. Tapi bagi saya yang kali pertama akan merantau, hal itu terasa sedikit berat.

Hidup saya sampai pada sebuah pernikahan. Dan kini saya memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri. Mendampingi suami dimanapun ia berada. Dan hal itulah yang membuat saya sekarang ada disini.

Ada saat dimana kita harus berpisah dengan orang tua dan adik. Masa dimana kita menjalani kehidupan kita sendiri secara mandiri. Dan kini, bumi Aceh tepatnya kota Lhokseumawe menjadi tempat tinggal saya dan suami. Rasanya aneh ketika tiba disini. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah saya akan menjalani kehidupan disini tanpa ada keluarga. Hanya berdua dengan suami. Tanpa ada saudara ataupun kerabat.

Tetapi berbekal keyakinan bahwa setiap sudut bumi ini adalah milik Allah SWT, saya mencoba menjalani semuanya dengan santai. Saya berkata pada diri sendiri bahwa hal ini adalah hal baru yang menyenangkan. Anggaplah sebagai sebuah pengalaman  hidup yang mungkin tidak setiap orang bisa mengalaminya. Mendapatkan kesempatan merantau, bertemu dengan orang-orang baru dan suasana yang jauh berbeda budaya, adat istiadat dan karakter orang yang beragam.

Dan tak terasa kini, saya sudah satu tahun lebih disini. Alhamdulillah saya merasakan hidup yang penuh dengan keberkahan. Setiap pagi saat mencium tangan suami dan mengantarkannya ke muka pintu untuk menjemput rezeki, saya merasa damai. Di tempat yang jauh dari rumah, saya memiliki seorang suami yang baik. Ia menjadi sosok yang bijaksana layaknya orang tua sekaligus menjadi sahabat terbaik setelah mama yang pernah saya miliki. Orang yang selalu menyediakan bahunya saat saya merasa gundah, orang yang selalu mengelus punggung saat merasa rindu pada ibu.

Entah sampai kapan kami akan tinggal disini. Meskipun terasa menyenangkan, kami tetap menyimpan kerinduan untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Jarak yang jauh tidak memungkinkan kami untuk bisa sering pulang. Sebaik apa pun di tanah rantau, hati akan selalu memanggil untuk pulang dan dekat bersama keluarga. Ada orang tua yang selalu berharap kami dekat. Dan begitupun kami merasakan hal yang sama. Tapi kami masih harus bersabar untuk bisa pulang. Ada hari yang masih harus kami jalani disini sambil menunggu kesempatan untuk bisa kembali ke tanah kelahiran.

Tanah rencong adalah rumah kami sekarang dan bumi parahyangan  tetap menjadi tanah leleuhur yang kami cintai. Suatu saat kami akan kembali untuk menetap. Menjalani kehidupan istimewa dikelilingi orang-orang yang kami cintai.


Lhokseumawe, 5 Desember 2014

                                      Waduk kota lhokseumawe, Aceh utara
[ Read More ]

Me, My mom and books

Dulu waktu masih SD, paling banter baca buku dapat pinjaman dari teman. Perpustakaan sekolah hanya punya sedikit koleksi buku. Mungkin hampir tidak ada karena sekolah tempat saya dulu belajar, sekolah inpres yang letaknya dekat sawah (ini serius lho). Jarang diperhatikan. Minim fasilitas dan dengan bangunan yang amat sederhana.

Saya ingat dulu mama mengenalkan saya pada tulisan saat sebelum sekolah. Kira-kira usia empat atau lima tahun. Memang tidak sepenuhnya saya ingat, tapi yang masih melekat di ingatan, mama sering menggunting banyak gambar dari majalah atau koran untuk kemudian di tempelkan di buku gambar. Bisa guntingan gambar binatang, tanaman atau apa saja. Kemudian beliau mengajak saya duduk dan mulai mengajari mengenal  gambar tersebut dan belajar menulis huruf. Saya  suka sekali gambar kucing pada waktu itu. Dan mama dengan telaten menggunting gambar, menempelkan dan kemudian menjawab semua pertanyaan dari mulut bawel saya. Mama juga sering bercerita tentang kebawelan saya. Tentang saya yang selalu bertanya ini dan itu. Dan terbukti sampai sekarang pun masih bawel :D

                       

Dimulai dengan pertanyaan tentang gambar ‘Ini apa Ma?’ Kemudian mama menjelaskan bahwa gambar tersebut namanya Kucing. Lalu mama mengajari caranya menulis huruf k-u-c-i-n-g dan lanjut mengejanya. Kira-kira begitulah metode yang digunakan mama untuk mengajari saya. Selain itu mama juga mengajari menulis huruf-huruf dasar, menggambar bentuk, dan lainnya.

Saya masuk sekolah dasar usia lima tahun setengah. Karena saat itu saya enggan masuk TK, jadilah mama memasukan saya ke sekolah dasar terdekat. Itupun karena saat itu kepala sekolahnya masih kerabat, jadi saya boleh masuk. Dengan perjanjian, saya harus bisa mengikti pelajaran. Jika tidak, saya akan mengulang kembali kelas satu.

Tapi alhamdulillah, saya bisa mengikuti pelajaran dengan cukup baik hingga lulus SD. Menjelang masuk SMP, saya mulai belajar menulis. Bukan sekedar menulis huruf saja, tapi merangkai kata menjadi sebuah cerita. Bermula dari sebuah buku diari, saya mulai jatuh cinta untuk menulis. Awalnya belajar secara otodidak. Hanya menulis biasa saja. Kebanyakan curhat sehari-hari ala anak yang baru beranjak remaja :D

Di SMP termpat saya sekolah, ada perpustakaan yang koleksi bukunya cukup banyak. Ya, meskipun judul bukunya jadul tapi lumayan. Saat itu saya ingat, novel-novel legendaris seperti karya Marah Rusli ada di perpustakaan sekolah. Dari perpustakaan SMP itulah, saya mulai membaca banyak karya tulis. Dan seorang teman memberitahu bahwa di Purwakarta, kota tempat saya tinggal saat itu ada perpustakaan daerah. Kita bisa meminjam buku secara gratis dengan menjadi anggota. Saya tidak langsung menjadi anggota perpustakaan pada waktu itu. 




Baru setelah duduk di SMK, saya menjadi anggota. Sejak saat itu, saya rajin berkunjung dan meminjam buku. Bagi saya, kegiatan seperti ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Saya yang tidak mendapat banyak uang jajan saat sekolah, tidak bisa seperti anak-anak lain yang setiap weekend bisa jalan-jalan. Tapi saya patut bersyukur karena hal ini adalah bagian dari kesenangan saya. Tidak semua orang bisa menikmatinya. Dan saya harus lebih bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sudah memperkenalkan saya pada buku sedari kecil. Hal yang menurut saya istimewa karena berkat itulah saya kemudian memiliki cita-cita menjadi seorang penulis. Di SMK, saya bertemu dua orang sahabat yang juga memiliki minat yang sama. Kami sering bertukar membaca tulisan karya kami. Keduanya teman yang menyenangkan dan kami masih bersahabat hingga kini.

Cita-cita untuk menjadi seorang penulis seolah memberi suntikan semangat untuk saya. Membuat saya selalu ingin belajar. Meskipun adakalanya rasa bosan menyerang dan saya mencoba melakukan hal lain, tetapi saya selalu kembali pada kesenangan saya, yaitu menulis. Saya menulis apa saja. Pada awalnya, saya menulis sekehendak hati saya. Dan seiring berjalannya waktu, saya tidak hanya sekedar menulis. Tetapi ada semacam kebutuhan untuk tahu lebih banyak. Bagaimana caranya menulis? Atau bagaimana cara menulis cerita yang baik? 

Hingga kini, saya masih terus belajar untuk melengkapi kesenangan saya, yaitu menulis. Tidak hanya sekedar menulis, tetapi juga menulis sesuatu yang bisa bermanfaat dan apik. Semuanya saya pelajari dari membaca dan bertanya pada  kawan yang memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Saya beruntung menemukan orang-orang rendah hati yang mau mengajari saya dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Beberapa teman saya yang luar biasa mengatakan  jika ingin bisa menulis, kita harus banyak membaca. Dan ternyata ungkapan “Buku adalah jendela dunia” itu bukan sekedar kalimat. Meskipun sekarang ini internet sudah begitu akrab, tapi buku tetap tidak bisa tergantikan. Dan lagi-lagi, saya harus beruntung karena hal ini. Saya sudah diperkenalkan buku oleh mama saya sedari kecil. Warisan yang istimewa. Yaitu menumbuhkan minat baca saya sedari dini. Saya sadar, referensi bacaan saya memang belum banyak. Tetapi kecintaan saya terhadap buku secara tidak saya sadari sudah ditanamkan mama saya. Beliaulah orang pertama membuat saya ingin terus belajar hingga kini. Saya jadi ingat saat saya patah hati karena tidak bisa sekolah di perguruan tinggi, mama saya mengatakan bahwa masih banyak buku yang bisa saya baca, sama seperti yang dibaca para mahasiswa. Ah, saya beruntung memiliki Ibu seperti Mama.

Belakangan saya tahu bahwa keinginan saya menjadi seorang penulis, adalah cita-cita yang sama yang dimiliki oleh mama dulu. Beliau memang tidak pernah bertekad menjadikan saya seorang penulis. Tetapi mungkin kecintaan mama pada dunia menulis diwarisakan dalam bentuk cara mengajar saya. Dimulai dari  mengenalkan saya pada buku sejak dini, hingga saya jatuh cinta. Saat mama membaca tulisan saya yang tergabung dalam sebuah antologi. Beliau berujar “Dulu Mama ingin jadi penulis nggak kesampaian. Mungkin Teteh yang nerusin nanti,” saya tersenyum. 

Semoga saya bisa meneruskan cita-cita mama dahulu. Dari mama, saya menemukan sebuah kecintaan dan belajar mengerti bahwa membaca adalah salah satu hal yang tidak kita sadari begitu memiliki pengaruh yang luar biasa. Hal yang sudah di lakukan Mama sejak saya kecil. Thanks for this thing, Mom. I am glad to be your daughter. Mungkin jika yang menjadi ibuku bukan engkau, Ma...aku tak akan pernah mencintai buku dan belajar untuk menjadi seorang penulis. Seperti cita-citamu dulu,”


    
[ Read More ]

Home sweet home- Rumahku surgaku

Istilah yang amat familiar. Rumah yang bagaikan surga. Tentulah jika kita mendengar kata surga, pikiran kita terbayang sebuah tempat indah. Mungkin menjadi tempat terindah yang pernah ada dengan segala hal didalamnya yang membuat kita nyaman. Surga identik dengan kemewahan dan kesenangan. Tak diragukan lagi, meskipun kita tidak mengetahui bagaimana surga yang sebenarnya, tapi kita bisa tahu dari gambaran yang sering kita baca dan dengar. Salah satu contoh, surganya Allah Ta’ala. Digambarkan dengan penuh keindahan dan keistimewaan.

Istilah surga sekarang ini tidak hanya ditujukan untuk sebuah tempat saja. Tapi juga untuk banyak hal yang mendatangkan kesenangan pun orang katakan sebagai surga. Meskipun surganya orang kebanyakan di masa ini adalah hal yang semu dan mendatangkan musibah.

Saat kita menonton tayangan televisi dimana diperlihatkan bagaimana mewahnya sebuah rumah dengan segala fasilitasnya, terkadang membuat kita mengira bahwa hunian tersebut adalah sebuah surga nyata di dunia. Adalah kita sebagai manusia hanya melihat artian surga hanya dari tampilan semata. Setidaknya dulu, saya pun pernah berpikir seperti itu. Saat remaja, saat saya berkunjung ke rumah teman yang memiliki rumah indah, saya pun sempat berpikir bahwa teman saya itu sudah memiliki surga. Atau setidaknya tinggal di sebuah surga.
[ Read More ]

Keseruan yang nggak akan pernah berakhir dari Rama 45

Delapan tahun yang lalu ketika bergabung menjadi salah satu pegawai di tempat ini, aku sungguh tak merasa nyaman. Tempat ini bukanlah tempat impianku bekerja. Jauh dari cita-citaku. Tempat ini adalah sebuah industri yang amat asing. Belum pernah sekalipun aku tahu seluk beluknya.
Namun, kondisi yang mengharuskan aku menerima dan menjalaninya...

Beberapa bulan pertama bekerja, aku masih amat muda. Sebuah usia dimana seharusnya aku masih berjibaku dengan diktat kuliah. Tapi masa-masa itu harus  dilewati dengan bekerja. Ada sebuah pemberontakan dalam diri, terus bertanya 'mengapa harus seperti ini dan itu?!'
Sebuah masa dimana aku banyak menuntut, menggugat dan meragukan.

Saat yang menurutku amat labil. Menjalani sesuatu tanpa rasa ikhlas. Ketidakikhlasanku karena tidak bisa meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, membuatku selalu merasa marah. Teriakanku terkecat mengenai ketidaksukaan pada tempatku bekerja. Dan sudah aku putuskan aku tak mau berlama-lama berada di tempat itu.

Rama 45...
Awalnya aku begitu membencinya. Sebuah tempat dengan mayoritas pegawai laki-laki. Karyawan perempuan bisa dihitung jari. Sebuah tempat dimana aku, sebagai seorang perempuan harus mandiri dan tak ada perlakuan istimewa. Tak ada sisi feminim dari tempat ini. Semuanya berbau 'laki-laki'.
Sebuah tempat yang  tak pernah aku sukai hingga bertahun lamanya.
Hampir empat tahun lamanya, aku masih belum bisa menerima. Melangkahkan kaki setiap hari datang bekerja hanya 'sekedar menjalankan kewajban'. Tanpa adanya sebuah kenyamanan dan sikap nrimo.

                                  
[ Read More ]

Aku dan ibuku, kami cinta menulis ^^



Sebuah surat cinta untuk Ibu, tergabung dalam buku antologi diatas ^^
Sebuah hadiah untuk Ibu tercinta. Bagiku, Ibu tak hanya sekedar orang yang melahirkan aku ke bumi, tetapi juga menjadi seorang sahabat, panutan, dan contoh nyata bagaimana menjadi seorang perempuan hebat. Perempuan terkasih yang perlahan terlihat kerutan di sudut matanya, namun tetap cemerlang dan cantik dimataku. Ratu di rumah kami. Sahabat terbaik bagi kami, anak-anaknya :)
I love U mom now and for a thousand years even more forever :))

 

Beningnya mata dan hatimu, Ibu

Ibu.....
Manusia terkasihku. Bagiku, mata indahmu adalah sebuah jendela tempat aku melihat dan belajar memaknai hidup dengan sebuah senyuman dan dada lapang. Akan aku ikuti bagaimana caramu melangkah anggun namun tegar memandang kerasnya hidup.
Peluk raga dan hatimu dalam sudut pikirku, wahai Ibu membuatku tak dapat berucap. Ingatkah engkau, Ibu ketika dua bola mata kita saling beradu dan kita mulai berbicara melalui garis batin. Engkau mengelus lembut rambutku dan membisikan kalimat syahdu. Membesarkan hatiku, memberi suntikan nutrisi pencerahan untuk jiwa.
Seketika, aku bayangkan saat aku bermukim dalam dinding gelap berbalut cinta yang kau sebut rahim. Hangat. Dan meskipun aku hanya bermukim di tempat itu hanya sembilan bulan saja, aku tetap merasakan kehangatan darimu hingga kini. Dekapanmu saat aku tertatih dan jatuh dalam perasaan kalut, belaianmu saat aku merasa takut, dan manisnya pancaran senyum terbaikmu dikala memberi semangat.
Engkau tersenyum tulus, sebuah senyuman berbau surga.
[ Read More ]

Kotak mimpi




Bau lembab dan wangi tanah yang baru saja tersapu air hujan menusuk hidungku. Mengintip dari celah jendela, menikmati dan merasakan aroma rintik hujan membuatku ingin menghirup udara dalam-dalam.
Di saat seperti ini alam pikirku mencatat banyak hal dan pada akhirnya aku akan menuruti komandonya. Bergegas mengambil sebuah benda keramat dan mulai menari-nari di atas barisan kertas putih.
Aku menulis apa yang ingin aku tulis dan ketika kertas putih itu telah terisi penuh, rongga dadaku naik turun dipenuhi udara segar. Sungguh, ada satu kelegaan bisa mengatakan banyak hal pada sahabat karibku, “ Si Kertas Putih”. Ia memang bisu, tapi ia sahabat yang istimewa. Membiarkanku berlama lama memuntahkan tinta pena, yang tak jarang aku kasari dengan membuat satu garis coretan jika aku merasa tulisanku tak layak baca. Di lain waktu ketika aku merasa gemas, ia tak bisa lari dari remasan jari- jari tanganku. Dan di saat aku merasa sentimentil, ia pun tak keberatan aku  bicara banyak hal yang mungkin jika orang mendengarnya akan menyebutku cengeng.
[ Read More ]

Baris cerita tentang sahabat ^^

Sudah lewat dari sepuluh tahun aku mengenalnya. Saat itu aku masih duduk di kelas satu SMP. Aku hanya mengenalnya sebagai seorang teman sekelas yang  pendiam dan pandai. Kami terus berada dalam satu kelas yang sama sampai akhir masa SMP. Tidak pernah ada cerita pertemanan istimewa bersamanya. Kami tak terlalu dekat karena pada awalnya, aku menemukan  kesulitan untuk berteman dengan sosok pendiam  itu.

Bahkan ketika kami kembali bersekolah di SMK yang sama dan satu kelas juga, belum ada cerita pertemanan menarik diantara kami. Dia masih cenderung pendiam. Berbeda sekali dengan karakterku yang 'jutek', cuek dan cerewet. Hehehe...

Pada saat itu, aku masih belum merasa dekat sebagai seorang 'sahabat'. Namun sebagai teman, kami mengetahui bahwa kami memiliki minat yang sama. Yaitu menulis dan buku. Dua hal yang menjadi bagian dari hidup kami semasa sekolah. Saat itu, aku merasa menjadi remaja yang cupu. Tak pernah tampil trendy ala anak remaja, tampil cuek dan hanya menjadi remaja biasa yang tak populer dan hanya doyan nulis :D
[ Read More ]