Berbagi kisah dan rasa

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title
Tampilkan postingan dengan label Gado-gado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gado-gado. Tampilkan semua postingan

Uang dibuang, oh sayang

Pernahkah melihat tayangan berita bahwa seorang sosialita memiliki tas yang harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah? Lalu apa yang terbayang dalam benak kita? kalau saya pribadi langsung berucap, “itu tas yang harganya selangit dibelinya pakai uang betulan ya? Bukan pakai daun kan?” :D hihi


Karena bagi saya, jumlahnya amat banyak. Duh, uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk beli satu tas saja? OMG... Tapi itu memang terjadi. Berbagai tas branded yang menjadi kebutuhan bagi kaum sosialita sejajar harganya dengan benda berharga lainnya. Kalau berlian sih masih mending. Lha ini tas? Hihi.. seorang teman berkata, “Ngapain juga sih lo sibuk ngurusin mereka. Duit-duit mereka kelesss. Berarti mereka memang sanggup beli” Hihi...yoi  mamen, memang urusan mereka ko mau beli tas yang harganya berapapun juga. Ini kan cuma sekedar komentar saja. Karena bagi saya yang tiap bulan harus mengatur keuangan sebaik-baiknya ko rasanya miris ya? Mbok ya duitnya mending dikasih saya aja gitu ya sekian persen dari harga tas :D hihi.. ngareppp. Siapa lu? :D



Dunia perempuan memang banyak perniknya. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Suami pernah berkata, “Jadi perempuan ko ribet banget ya. Banyak keperluannya”  lalu saya timpali, “Eits, nggak semuanya atuh sayang...” Hmm, kembali lagi ke pribadi  masing-masing. Jujur, saya pun suka barang-barang semacam itu. Nggak dipungkiri kadang kalau melihat deretan barang-barang itu di toko rasanya ingin bawa pulang semua. Tapi biasanya saya langsung tarik nafas sambil berkata, “Jauhkan diriku dari godaan belanja...” sambil komat kamit :D

Dan untunglah saya masih bisa meredam keinginan kalau masuk toko. Kalau punya barang-barang branded dan harganya selangit begitu apakah karena gengsi semata ataukah karena memang mereka hobi belanja? I dont know. Mungkin setiap orang punya alasan sendiri. Tapi kalau bicara soal hobi, rasanya jika seseorang sudah suka dan sanggup membeli, uang sudah tidak dipertimbangkan lagi. Kalau orang kaya begitu kali ya. Saking banyaknya uang, bingung mau diapakan lagi. Alternatifnya ya belanja. Mending sumbangin ke saya aja atuh, Pak, Bu kalau bingung uangnya mau dikemanakan :D ngarep lagiiii...

                                 


Dan nggak hanya kaum perempuan saja loh yang punya hobi belanja pada benda yang harganya fantastis. Tapi kaum pria juga. Kalau saya hanya bicara soal perempuan yang punya hobi mahal ko rasanya nggak adil ya? Hihi.. Lagi-lagi saya tahu dari media. Kebanyakan mereka lebih memilih barang otomotif seperti mobil atau motor. Eh, tapi nggak juga deh karena balik lagi ke orangnya suka benda apa. Saya pernah melihat ada seorang pria yang mengoleksi miniatur pesawat dan mainan yang harganya pun tidak kalah mahal. Ckckck... ngences jadinya. Hihi... bukan karena ingin punya juga barang-barang semacam itu. Tapi ngences lihat uangnya yang dibelanjakan para jutawan itu. Hihi :D

Ah, sudahlah. Lama-lama tambah stress nanti ngomongin soal uang para jutawan. Hihi... Sebagai orang yang dibesarkan di keluarga sederhana dan di didik untuk menghargai uang, rasanya bertolak belakang dengan apa yang saya lihat. Rasanya suka sedih aja kalau udah ada tayangan hobi mahal lalu berganti dengan tayangan tv yang mengulas kehidupan kaum miskin. Untuk memperoleh uang yang nggak seberapa saja, mereka harus kerja keras dahulu. Terkadang kerja keras mereka nggak sesuai dengan upah yang mereka dapat. Tapi pilihan mereka hanya satu. Bekerja biar dapur tetap ngebul.

Bersyukurlah kita yang setiap harinya masih bisa makan enak dan nggak perlu bercucuran keringat seperti mereka. Kalau sudah larut dalam tayangan tersebut, saya bisa berkaca-kaca. Saya melihat di tv, seisi rumah hanya makan nasi aking. Hiks..hiks.. apa enak itu ya? Bayangkan dengan harga makanan restoran mewah yang disantap para sosialita? Sudah pasti jauh berbeda. Saya menulis ini tidak ditujukan untuk siapa-siapa. Tetapi pengingat diri saya sendiri. Saat saya akan membelanjakan sesuatu untuk barang-barang yang sekiranya harganya mahal, hal ini menjadi semacam pengingat. Meskipun seandainya saya sanggup untuk membayar harga barang tersebut, tapi rasanya hati saya tersentil. Jika saya membeli sebuah tas mahal, diluar sana masih banyak anak-anak sekolah yang tidak memiliki tas. Bahkan yang murah sekalipun. Pun saat saya akan membeli sebuah alas kaki yang harganya lumayan, saya urungkan karena diluar sana masih  banyak orang yang bertelanjang kaki.

                             
                                       sumber gambar: google.com

Saya memang tidak lantas berhenti belanja sama sekali. Tapi setidaknya mereka menjadi pengingat saya agar tidak memiliki hobi yang berlebihan dan menghabiskan banyak uang ketika membeli sesuatu. Untunglah saya masih memiliki ibu dan suami yang juga selalu mengingatkan agar tidak berlebihan dalam hal apapun termsuk belanja. Ibu saya mengatakan, “Sekalipun kamu sanggup membeli, hendaknya membeli yang wajar-wajar saja. Allah tidak suka orang yang berlebih-lebihan..” Ibuku memang juara  bijaknya.

Lantas kalau ada yang mengatakan. “terus kalau begitu, lu aja yang beliin sana kebutuhan mereka yang miskin kalau lu peduli...” My prennn, memiliki rasa empati adalah awal yang baik. Dan semoga dengan begitu Allah melapangkan rezeki kita untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan dan kalau mau beramal kan nggak harus bilang-bilang juga toh? Hihi :D

Semoga hal seperti ini terus menjadi pengingat untuk saya. Bijak dalam mempergunakan uang dan memiliki hobi. Punya hobi memang bukan sesuatu yang salah. Tapi harus sesuai kemampuan dan tidak berlebihan. Betullll? Kalaupun mungkin ya lebih baik punya hobi yang menghasilkan juga. Yang hobi makan bisa dikembangkan menjadi peluang usaha kuliner. Atau yang suka menggambar bisa buka usaha les melukis mungkin? Punya penghasilan lebih dan bisa dipergunakan untuk hal-hal yang baik seperti membantu sesama akan terasa lebih istimewa dibanding hanya menghambur-hamburkan uang untuk barang yang jumlahnya fantastis :) Kalau ada salah satu artis penggila tas mahal mengatakan bahwa tas yang ia beli itu bagian dari investasi? Hmm, rasanya ada banyak jenis investasi yang lebih terlihat bijak dan nggak berlebihan. Ini menurut saya yang orang awam loh. Hehe. Money oh money...



                                                 



                   
[ Read More ]

Lovely rain, semoga membawa berkah

Lhokseumawe hari ini diguyur hujan kembali.  Beberapa minggu yang lalu saat hujan deras terus turun, beberapa wilayah disini ada yang kebanjiran. Bahkan kabarnya hingga mencapai ketinggian 3 meter. Duh, tidak terbayang kalau aku tinggal di tempat yang terkena banjir. Kampung halamanku alhamdulillah adalah tempat yang bebas banjir. Dan kemarin saat hujan deras tak kunjung berhenti, air dari halaman belakang rumah pun mulai meluap. Hampir saja masuk ke dapur. Aku mulai panik, takut kena banjir juga. Tapi alhamdulillah air kembali surut.

Jika sudah masuk musim hujan, disini biasanya hujan berlangsung cukup lama dalam sehari. Ditambah pula dengan debit airnya yang cukup tinggi. Ketika pertama kali kesini, sempat kaget melihat hujan yang semacam ini. Hehe. Maklum saja, di kampungku jika hujan tak pernah ekstrem begini.

Bicara soal hujan, dulu saat aku masih kecil dan mendengar suara petir dan halilintar saat hujan deras, mama selalu berkata bahwa aku tidak perlu takut akan hal itu. Cukup membaca doa “Allahumma shoyyiban nafiaa” (Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat) Mama mengatakan bahwa setiap yang Allah turunkan pasti diiringi dengan rahmat. Saat itu aku bertanya-tanya, jika memang hujan itu rahmat, mengapa masih ada orang yang kebanjiran karena turunnya hujan?


                                                  sumber gambar: www.cwaca.com

Kemudian mama menjelaskan kembali padaku bahwa bencana semacam banjir adalah hal yang di tetapkan Allah. Dan jika terjadi bencana, adakalanya manusia memiliki andil terjadinya bencana tersebut. Mama berkata, hutan-hutan yang gundul, tidak mau membuang sampah pada tempatnya atau saluran air yang tidak berfungsi dengan baik bisa menjadi penyebab terjadinya bencana. Bencana bukanlah hanya murka Allah semata. Dan hujan yang turun ke bumi harus tetap kita syukuri.

Aku mulai belajar memahami perkataan mama. Mamaku seorang yang sederhana namun dengan pemikiran yang luar biasa. Beliau menjelaskan rasa penasaranku dengan bahasa yang sederhana. cukup bijaksana menurutku saat setiap kali aku mendengar mama bicara apapun.

Suatu saat ketika beranjak besar, aku mengeluh pada mama. Aku mengatakan bahwa aku ingin segera hujan turun. Saat itu sedang musim kemarau. Rasanya udara menyengat kulit dan minum air banyak pun tidak terasa. Mama kemudian berkata kembali, “Teteh ini ko ngeluh terus sih, kalau lagi panas mau ada hujan. Nah kalau lagi hujan katanya mau panas. Hayooo...” Aku nyengir kuda mendengar kalimat mama. Memang betul juga sih. Hehe... Tapi rasanya bukan aku saja yang seperti itu. Beberapa orang sering mengeluh hal yang sama sepertiku. Tunjuk tangan yang suka mengeluh sepertiku :D hihi

Manusia memang mahluk yang penuh dengan keluhan, termasuk aku. Saat hujan turun dan beberapa wilayah kebanjiran, aku berujar, “kenapa nggak berhenti sih hujan, kan kasian yang kebanjiran” atau saat musim panas melanda, “panas banget nih, hujan turun dong...”  Yah, seperti itulah. Sempat aku juga berpikir bahwa saat musim hujan, kasihan para pedagang es karena dagangan mereka pasti tidak laku. Dan saat musim panas, kasihan pedagang bandrek pasti tidak laku juga. Tapi rupanya aku salah. Pernah aku temui seorang pedagang yang biasanya berjualan es saat musim panas tiba-tiba berubah menjadi pedagang gorengan saat musim hujan. Aku bertanya penasaran dan beliau menjawab, “diatur-atur saja, Neng jualannya. Disesuaikan sama musim. Memang betul kalau musim hujan es kurang peminat. Tapi dapur kan harus ngebul. Jadi ya, mamang cari cara lain untuk jualan”

 Aku tertegun. Allah memang maha pemurah. Disaat aku berpikir kalau pedagang es tidak punya penghasilan saat musim hujan, ternyata Allah membuat mereka berpikir kreatif. Jadi tidak sepenuhnya benar jika musim hujan membawa kesengsaraan. Seperti halnya pedagang bandrek yang tetap ada pembeli meskipun saat musim panas. Rezeki akan tetap bsia diraih selama ada usaha dan keyakinan. Hal itulah yang aku lihat.

Setidaknya dari contoh kecil di lingkungan sekitar, aku banyak belajar. Memang betul apa yang mama katakan. Bahwa hidup bukan untuk dikeluhkan tapi untuk diperjuangkan dan disyukuri. Jika kita sering mengeluh tentang cuaca yang panas atau hujan yang tak kunjung berhenti, rasanya akan habis waktu kita untuk terus mengeluh. Aku ingat kembali apa yang diajarkan mama. Jika hujan turun, lebih baik kita berdoa saja agar Allah menurunkan hujan yang penuh dengan berkah. Dan jika terjadi bencana, kita doakan juga semoga keadaan kembali seperti semula. Pun jika saat musim kemarau panjang melanda dan sawah kita kekeringan, berdoa lah semoga Allah menurunkan hujan yang bisa kembali mengairi sawah-sawah kita. semoga senantiasa selalu ada hal baik yang bisa kita petik dari setiap musim yang  kita alami.


                                    Sumber gambar: daulahislam.com
[ Read More ]

Bang bing bung nyok kita nabung

Dulu sewaktu masih lajang dan bekerja, rasanya sah saja jika menggunakan uang hasil kerja kita untuk membeli sesuatu yang kita suka. Dan kadang kala bablas :D tergiur melihat tulisan diskon yang ukurannya besar. Padahal jenis barang yang di diskon tersebut sudah kita miliki. Dalihnya “Sayang kalau nggak dibeli, mumpung lagi diskon” Pernah juga mengalami seperti saya? Hehe..apalagi perempuan sering melek diskon dan antusias jika masuk ke pusat perbelanjaan.

Saya memang bukan penggila belanja yang sanggup menghabiskan banyak uang untuk membeli barang yang harganya fantastis. Karena saya tidak sanggup untuk itu :D namun jika kebetulan sedang ada dana dan ada event sale, saya ikut mampir juga untuk membeli beberapa barang asal sesuai isi kantong. Hehe...

Perempuan oh, perempuan. Begitulah adanya kalau bicara soal belanja :D namun meskipun begitu, saya bersyukur masih punya rem untuk mengendalikan keuangan. Mama saya memang tidak pernah secara gamblang melarang saya untuk berbelanja. Tapi beliau secara halus mengingatkan saya, bahwa uang itu layaknya air yang mengalir. Jika tidak kita tampung dalam sebuah bejana, tentunya akan mengalir habis begitu saja. Perkataan mama saya itulah yang menjadi patokan saya menilai arti dari uang. Syukurlah meskipun saya senang berbelanja, tetapi saya masih bisa mengontrol diri.

                         
                                       sumber gambar: www.bapertarum-pns.co.id

Setelah delapan tahun bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan total menjadi Ibu rumah tangga. Saya ikut suami ke tempat beliau berdinas. Di sebuah kota yang jaraknya jauh dari kampung halaman. Di kota ini, saat menjalani hari sebagai seorang istri, saya banyak belajar. Pada awalnya, jujur saya sedikit bosan.  Bukan karena saya merasa pekerjaan sebagai seorang istri itu tidak menyenangkan. Melainkan karena saya merasa ada aktifitas yang hilang, yaitu bekerja dan minus penghasilan sendiri. Tapi semakin hari saya sadari, ini adalah konsekuensi yang saya pilih. Sebuah pengorbanan yang akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih berharga dan tak ternilai. Dan memang betul saya rasakan kini, mungkin jika saya masih bekerja, saya tidak akan mendapatkan hal-hal yang seperti saya dapat sekarang ini.

Mama saya mengatakan bahwa ketika dua orang memutuskan untuk menikah, maka pada saat itu pula Allah akan mencukupi rezeki orang tersebut. Jangan takut karena istri tidak bekerja lantas merasa kurang dan takut tidak tercukupi.

Jadilah saya mengerti dan saya patut bersyukur karena saya bisa banyak belajar. Sumber penghasilan kami dari gaji suami saya. Sebuah hal yang harus saya syukuri, ada pemasukan rutin tiap bulan. Suami saya mempercayakan keuangan sepenuhnya pada saya. Saat diberi amanah tersebut, saya berusaha agar bisa sebaik-baiknya mengelola. Saya mulai belajar membuat pos-pos keuangan. Anggaran belanja kebutuhan pokok, biaya listrik, pulsa handphone, dsb. Perlahan, kebiasaan saya ngiler saat melihat kata diskon pun berubah. Otak saya secara otomatis memerintahkan agar saya berpikir dua kali untuk mampir. Pikiran saya perlahan berubah, bahwa ada yang lebih menjadi prioritas dibanding sekedar belanja barang yang sudah saya miliki. Tas, sepatu? Hmm...aktifitas saya di luar rumah sudah semakin berkurang dan rasanya barang-barang tersebut masih tersimpan bagus di rak. Sesekali jika ada dana, boleh lah kita memanjakan diri membeli barang kesukaan saya dan suami. Tapi jika sering? Tekor kitaaa :D hehe

Perkataan mama saya tentang uang masih menjadi pegangan untuk saya. Saya  juga berpikir bahwa mengatur uang secara efektif itu beda halnya dengan pelit. Pandangan saya, jika pelit, si pemilik uang mungkin tidak akan pernah membelanjakan uangnya bahkan untuk kesenangan dia sendiri. Kalau efektif menurut saya, uang yang kita keluarkan tepat guna dan sesuai dengan anggaran yang ada :D hehe

Dan soal bejana tempat menampung air, saya setuju dengan mama saya. Dulu, saya melihat mama memiliki celengan tanah liat dan dan plastik yang berjejer di lemari kamar. Ndeso memang gaya menabungnya. Satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang recehan pecahan 500/1000,- dan satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang kertas yang beliau sisihkan dari sisa uang belanja. Nominalnya mungkin jauh jika dibandingkan dengan orang-orang perlente yang menabung di rekening bank-bank besar. Tetapi hal tersebut menjadi pelajaran nyata yang saya lihat. Saya sempat berpikir “kok Mama telaten banget ya nabung” Lalu mama mengatakan “Suatu saat ini akan menolongmu” 

                                     
                                   sumber gambar: http;/bobo.kidnesia.com

Dan hal itu kini menjadi sebuah kebanggaan untuk saya. Karena dari tabungan itu lah saya dan adik saya bisa bersekolah meskipun tidak sampai ke perguruan tinggi. Keluarga saya memanglah sederhana dan ekonomi keluarga terbantu setelah saya berkerja. Tetapi meskipun begitu, mama tidak sepenuhnya menggantungkan diri dari penghasilan saya saat itu. Beliau masih tetap  menabung dengan caranya. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Jangan dilihat dari nominal yang kita tabung. Tapi lihat nanti jika sudah penuh, berapa hasilnya. Itu yang mama katakan.

Dan jadilah sekarang saya mengikuti apa yang beliau lakukan. Meskipun saya tidak menabung di celengan tanah liat, saya tetap menyisihkan terlebih dahulu penghasilan suami untuk di tabung di rekening. Kebanyakan orang akan menabung saat ada sisa penghasilan. Tapi bagi saya, saya harus menyisihkan terlebih dahulu untuk menabung. Karena dengan begitu, kita akan lebih bertanggung jawab mengelola sisa uang yang ada. Dan kalau pun pada akhirnya ada keperluan mendadak, kita tidak akan terlalu pusing untuk mencari dana. Karena sebelumnya sudah ada tersimpan.

Dan soal menabung uang receh, saya juga mengikuti apa yang mama lakukan. Setiap sabtu pagi, kami berbelanja kebutuhan pokok. Saya biasa menganggarkan sejumlah uang untuk belanja kebutuhan tersebut. Dan jika ada sisa belanja, biasanya akan saya masukan ke satu dompet khusus. Bisa dikatakan, isinya recehan. Tapi seperti mama bilang, jangan lihat nominal berapa yang kita tabung. Tapi lihat nanti suatu saat recehan itu akan menolongmu :D

Bagi sebagian orang yang berpenghasilan besar mungkin tidak perlu bersusah payah seperti saya untuk mengelola uang. Tetapi bagi saya, management keuangan itu memang perlu ada dalam sebuah rumah tangga. Perlu di persiapkan dengan sebaik-baiknya. Toh, meskipun banyak uang jika tidak bisa mengelolanya, akan tetap terasa kurang. Selalu ingat prinsip uang yang seperti air. Perlu ada bejana yang menampung. Khususnya bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap tiap bulan, alangkah baiknya bijak dalam mempergunakan uang :D nggak mau kan nanti habis di tengah jalan lantas hutang sana sini? :D

Yook, dari sekarang kita mulai menabung. Ingat, jangan lihat nominal. Masih ingat kan pepatah “Sedikit demi sedikit, Lama-lama menjadi bukit” hal itu saya rasa bukan tipuan semata. Buktinya, Ibu saya yang menabung recehan pun bisa membantu ekonomi keluarga :D
                                                      sumber gambar: beritainfo.web.id

Semangat :D kalau bukan kita? Siapa lagi (Udah kayak jargon iklan ajan ih :D)
[ Read More ]

Gara-gara Jo in-Sung


Ada yang kenal dengan Jo in-Sung? Atau Lee min-Ho? Bagi para penonton drama korea pasti sudah tidak asing lagi, termasuk saya. Hehe

                                

Dibandingkan sinetron dalam negeri, saya lebih suka menonton drama dari negeri ginseng ini. Entahlah, menurut saya drama korea tidak selebay dan sedramatis sinetron kita. Tapi ya, kembali lagi ke pribadi masing-masing  lebih suka menonton yang mana.

Saya ingat, drama korea yang pertama kali saya tonton berjudul Full house yang dibintangi oleh Rain dan Song Hye-kyo. Saat itu saya masih sekolah di SMK. Sejak saat itu, drama korea menjadi semacam tontonan favorit saya. Hingga kini aktifitas saya menjadi ibu rumah tangga, saya masih suka menonton. Jam-jam siang di chanel LBS TV-K drama menjadi favorit saya. Sebatas hiburan saja sebenarnya. Karena saya tidak sehisteris para ABG yang mengidolakan artis korea.

Banyak sinema korea yang memiliki cerita yang menarik. Diluar kebiasaan para artis korea yang suka melakukan operasi plastik, bagi saya drama korea tetap menjadi tontonan yang cukup menghibur. Habisnya, serem kalau lihat sinetron dalam negeri sekarang. Selain judulnya yang aneh, ceritanya pun bagi saya terlalu berlebihan. Memberi efek jangka panjang yang tidak begitu baik untuk para remaja bahkan anak-anak yang menonton. Yang tadinya dimaksudkan untuk menghibur, malah memberi pengaruh buruk. Memang tidak semua tontonan dalam negeri itu buruk, khususnya drama. Karena saya pernah juga menonton beberapa FTV  dan film yang memiliki cerita yang bagus dan tidak terlalu aneh. Itu tandanya, masih ada harapan untuk kita memiliki tayangan hiburan yang bagus sekaligus mendidik. Hanya saja kita sebagai penonton harus cerdas untuk memilih tayangan mana yang sekiranya memberi dampak yang baik.

Bicara drama korea pun sebetulnya ada kelebihan dan kekurangannya. Saya pun tidak mengatakan bahwa semua drama korea itu bagus dan mendidik. Mungkin bagi sebagian penonton remaja, jika tanpa filter, bisa membuat mereka menggemari berlebihan. Seperti mengidolakan para artis korea secara histeris atau mengikuti gaya berpakaian mereka yang tidak sesuai kultur budaya kita.

Tapi sejauh saya suka menonton drama tersebut, ada hal lain yang kemudian membuat saya tertarik. Seringnya mendengar percakapan para pemain drama dalam bahasanya, membuat saya berpikir untuk mencoba belajar bahasa korea. Ketertarikan saya muncul karena seringnya menonton drama tersebut. Lantas apa yang saya lakukan untuk mulai belajar? Saya mencoba memanfaatkan hp android yang saya pakai. Di google play store, saya mencari aplikasi belajar bahasa Korea. Dan taraaa....saya menemukan satu aplikasi yang cukup bagus. Learn korean, learning aplication. Sebuah aplikasi yang berisi lebih dari 800 frasa dan kosakata bahasa Korea. Cukuplah untuk seorang pemula yang ingin belajar secara otodidak. Serunya lagi, aplikasi ini memiliki animasi burung beo yang bisa membantu kita belajar bicara dalam bahasa korea. Jadi kita bisa tahu ejaan dan pengucapan bahasa korea yang benar.
Fiturnya terdiri dari:
-               Frasa dan kosakata yang umum di ucapkan
-               Pengucapan penutur asli
-               Merekam dan membandingkan pengucapan kita
-               Menyimpan dan mengelola frasa favorit kita
-               Mencari frasa dan kosakata yang menggunakan kunci
-               Tidak di perlukan koneksi internet


Jika kita mau mengambil manfaat dari sebuah hal, pasti akan ada hal baru yang bisa kita pelajari. Tidak tertutup kemungkinan, saya pun akan belajar bahasa lainnya. Memang bukan belajar intensif seperti kita mengikuti kursus. Tapi cukup untuk kita memiliki kepuasan tersendiri jika nanti menonton sebuah tayangan dalam bahasa yang berbeda, ada kosakata yang bisa kita pahami. Saya selalu senang belajar bahasa asing. Meskipun kemampuan saya masih bisa dikatakan nol, saya selalu tertarik untuk tahu lebih banyak. Mungkin selain memanfaatkan fitur handphone, untuk selanjutnya saya akan mulai mencari tambahan referensi dari buku atau media lainnya. So, let’s learning by doing :D menyenangkan loh. Biarpun jadi ibu rumah tangga dengan setumpuk pekerjaan rumah, tapi tetap harus berwawasan kan? Jadi emak-emak gaul kan nggak apa-apa toh? Gaulnya kan ikutan up to date belajar bahasa asing :D hihi. Biar ngga kalah sama ABG :D So, ayo semangat belajar :D 
[ Read More ]

Berburu buku :D

Kalau masuk ke toko buku lalu melihat deretan buku-buku keren tuh rasanya ingin bawa pulang semua :D tapi berhubung selalu terbentur dengan budget dan harus ingat ada kebutuhan lain yang menunggu, jadilah saya harus ikhlas hanya membeli buku yang betul-betul saya inginkan dan sesuai dengan isi dompet. Rasanya tidak  pernah puas mengisi rak buku di rumah. Kalau bisa sih inginnya punya perpustakaan pribadi. Kan nanti bisa jadi warisan anak cucu :D keren kan? Hehe...

Suami sepenuhnya mendukung hobi saya membaca dan menulis. Termasuk ketika saya ingin membeli buku, ia tidak pernah melarang. Tapi adakalanya saya harus berpikir dua kali antara membeli buku dan membeli kebutuhan hidup yang lain. Namun meskipun begitu, saya masih bisa memikirkan cara agar saya bisa tetap membeli buku tanpa harus mengorbankan anggaran kebutuhan rumah tangga yang lain.
Mau tahu caranya? :D hehehe...
                        
                   Dengan uang 170 ribu, aku dapet semua buku ini loh :D

[ Read More ]