Berbagi kisah dan rasa

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Bang bing bung nyok kita nabung

Dulu sewaktu masih lajang dan bekerja, rasanya sah saja jika menggunakan uang hasil kerja kita untuk membeli sesuatu yang kita suka. Dan kadang kala bablas :D tergiur melihat tulisan diskon yang ukurannya besar. Padahal jenis barang yang di diskon tersebut sudah kita miliki. Dalihnya “Sayang kalau nggak dibeli, mumpung lagi diskon” Pernah juga mengalami seperti saya? Hehe..apalagi perempuan sering melek diskon dan antusias jika masuk ke pusat perbelanjaan.

Saya memang bukan penggila belanja yang sanggup menghabiskan banyak uang untuk membeli barang yang harganya fantastis. Karena saya tidak sanggup untuk itu :D namun jika kebetulan sedang ada dana dan ada event sale, saya ikut mampir juga untuk membeli beberapa barang asal sesuai isi kantong. Hehe...

Perempuan oh, perempuan. Begitulah adanya kalau bicara soal belanja :D namun meskipun begitu, saya bersyukur masih punya rem untuk mengendalikan keuangan. Mama saya memang tidak pernah secara gamblang melarang saya untuk berbelanja. Tapi beliau secara halus mengingatkan saya, bahwa uang itu layaknya air yang mengalir. Jika tidak kita tampung dalam sebuah bejana, tentunya akan mengalir habis begitu saja. Perkataan mama saya itulah yang menjadi patokan saya menilai arti dari uang. Syukurlah meskipun saya senang berbelanja, tetapi saya masih bisa mengontrol diri.

                         
                                       sumber gambar: www.bapertarum-pns.co.id

Setelah delapan tahun bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan total menjadi Ibu rumah tangga. Saya ikut suami ke tempat beliau berdinas. Di sebuah kota yang jaraknya jauh dari kampung halaman. Di kota ini, saat menjalani hari sebagai seorang istri, saya banyak belajar. Pada awalnya, jujur saya sedikit bosan.  Bukan karena saya merasa pekerjaan sebagai seorang istri itu tidak menyenangkan. Melainkan karena saya merasa ada aktifitas yang hilang, yaitu bekerja dan minus penghasilan sendiri. Tapi semakin hari saya sadari, ini adalah konsekuensi yang saya pilih. Sebuah pengorbanan yang akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih berharga dan tak ternilai. Dan memang betul saya rasakan kini, mungkin jika saya masih bekerja, saya tidak akan mendapatkan hal-hal yang seperti saya dapat sekarang ini.

Mama saya mengatakan bahwa ketika dua orang memutuskan untuk menikah, maka pada saat itu pula Allah akan mencukupi rezeki orang tersebut. Jangan takut karena istri tidak bekerja lantas merasa kurang dan takut tidak tercukupi.

Jadilah saya mengerti dan saya patut bersyukur karena saya bisa banyak belajar. Sumber penghasilan kami dari gaji suami saya. Sebuah hal yang harus saya syukuri, ada pemasukan rutin tiap bulan. Suami saya mempercayakan keuangan sepenuhnya pada saya. Saat diberi amanah tersebut, saya berusaha agar bisa sebaik-baiknya mengelola. Saya mulai belajar membuat pos-pos keuangan. Anggaran belanja kebutuhan pokok, biaya listrik, pulsa handphone, dsb. Perlahan, kebiasaan saya ngiler saat melihat kata diskon pun berubah. Otak saya secara otomatis memerintahkan agar saya berpikir dua kali untuk mampir. Pikiran saya perlahan berubah, bahwa ada yang lebih menjadi prioritas dibanding sekedar belanja barang yang sudah saya miliki. Tas, sepatu? Hmm...aktifitas saya di luar rumah sudah semakin berkurang dan rasanya barang-barang tersebut masih tersimpan bagus di rak. Sesekali jika ada dana, boleh lah kita memanjakan diri membeli barang kesukaan saya dan suami. Tapi jika sering? Tekor kitaaa :D hehe

Perkataan mama saya tentang uang masih menjadi pegangan untuk saya. Saya  juga berpikir bahwa mengatur uang secara efektif itu beda halnya dengan pelit. Pandangan saya, jika pelit, si pemilik uang mungkin tidak akan pernah membelanjakan uangnya bahkan untuk kesenangan dia sendiri. Kalau efektif menurut saya, uang yang kita keluarkan tepat guna dan sesuai dengan anggaran yang ada :D hehe

Dan soal bejana tempat menampung air, saya setuju dengan mama saya. Dulu, saya melihat mama memiliki celengan tanah liat dan dan plastik yang berjejer di lemari kamar. Ndeso memang gaya menabungnya. Satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang recehan pecahan 500/1000,- dan satu celengan dipergunakan untuk mengisi uang kertas yang beliau sisihkan dari sisa uang belanja. Nominalnya mungkin jauh jika dibandingkan dengan orang-orang perlente yang menabung di rekening bank-bank besar. Tetapi hal tersebut menjadi pelajaran nyata yang saya lihat. Saya sempat berpikir “kok Mama telaten banget ya nabung” Lalu mama mengatakan “Suatu saat ini akan menolongmu” 

                                     
                                   sumber gambar: http;/bobo.kidnesia.com

Dan hal itu kini menjadi sebuah kebanggaan untuk saya. Karena dari tabungan itu lah saya dan adik saya bisa bersekolah meskipun tidak sampai ke perguruan tinggi. Keluarga saya memanglah sederhana dan ekonomi keluarga terbantu setelah saya berkerja. Tetapi meskipun begitu, mama tidak sepenuhnya menggantungkan diri dari penghasilan saya saat itu. Beliau masih tetap  menabung dengan caranya. Dan itu masih berlangsung sampai sekarang. Jangan dilihat dari nominal yang kita tabung. Tapi lihat nanti jika sudah penuh, berapa hasilnya. Itu yang mama katakan.

Dan jadilah sekarang saya mengikuti apa yang beliau lakukan. Meskipun saya tidak menabung di celengan tanah liat, saya tetap menyisihkan terlebih dahulu penghasilan suami untuk di tabung di rekening. Kebanyakan orang akan menabung saat ada sisa penghasilan. Tapi bagi saya, saya harus menyisihkan terlebih dahulu untuk menabung. Karena dengan begitu, kita akan lebih bertanggung jawab mengelola sisa uang yang ada. Dan kalau pun pada akhirnya ada keperluan mendadak, kita tidak akan terlalu pusing untuk mencari dana. Karena sebelumnya sudah ada tersimpan.

Dan soal menabung uang receh, saya juga mengikuti apa yang mama lakukan. Setiap sabtu pagi, kami berbelanja kebutuhan pokok. Saya biasa menganggarkan sejumlah uang untuk belanja kebutuhan tersebut. Dan jika ada sisa belanja, biasanya akan saya masukan ke satu dompet khusus. Bisa dikatakan, isinya recehan. Tapi seperti mama bilang, jangan lihat nominal berapa yang kita tabung. Tapi lihat nanti suatu saat recehan itu akan menolongmu :D

Bagi sebagian orang yang berpenghasilan besar mungkin tidak perlu bersusah payah seperti saya untuk mengelola uang. Tetapi bagi saya, management keuangan itu memang perlu ada dalam sebuah rumah tangga. Perlu di persiapkan dengan sebaik-baiknya. Toh, meskipun banyak uang jika tidak bisa mengelolanya, akan tetap terasa kurang. Selalu ingat prinsip uang yang seperti air. Perlu ada bejana yang menampung. Khususnya bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap tiap bulan, alangkah baiknya bijak dalam mempergunakan uang :D nggak mau kan nanti habis di tengah jalan lantas hutang sana sini? :D

Yook, dari sekarang kita mulai menabung. Ingat, jangan lihat nominal. Masih ingat kan pepatah “Sedikit demi sedikit, Lama-lama menjadi bukit” hal itu saya rasa bukan tipuan semata. Buktinya, Ibu saya yang menabung recehan pun bisa membantu ekonomi keluarga :D
                                                      sumber gambar: beritainfo.web.id

Semangat :D kalau bukan kita? Siapa lagi (Udah kayak jargon iklan ajan ih :D)
[ Read More ]

Rindu di awal tahun untukmu, Ma

Kalau sudah bicara dengan mama di tetelpon tuh nggak bisa sebentar. Paling nggak, harus beli paket telepon yang seratus menit. Hehe...rasanya kalau sudah ngobrol begitu, waktu terasa sebentar dan nggak pernah cukup. Biasanya kami mengobrol banyak hal. Nggak terbatas topik. Bisa mulai dari pertanyaan saya tentang bagaimana cara membuat sebuah masakan, tentang adik-adik saya, bahkan tentang berita yang sedang hangat di televisi. Kalau sudah dua perempuan ngobrol, sudah pasti seru deh :D

Nah, kalau sudah begitu, biasanya adik bungsu saya yang juga sering menguping pembicaraan akan ikut menyahut dan berkata “Aduhh, lama amat sih teleponnya. Panas kupingnya” dan saya akan menimpali dengan kalimat, “Biar aja atuh, kan teteh cuma bisa ngobrol di telepon sama mama, Dek” kemudian mama akan sedikit ikut berkata pada adik bungsu saya, “Udah ah dek, adek main aja sana. Mama masih mau ngobrol sama teteh nih” Yes, i am win :D hihi. Mama lebih memiliih untuk melanjutkan ngobrol dengan saya. Dan si bungsu akhirnya mengalah dan pergi main. (kejamnya nyuruh si bungsu mengalah :p)

Entahlah, saya dan mama layaknya teman. Kedekatan kami tidak hanya karena saya anak perempuan mama satu-satunya. Dua adik saya lelaki dan sudah besar. Yang terpaut usia empat tahun dengan saya sudah bekerja. Dan si bungsu juga sudah kelas enam SD. Mama selalu membiasakan diri untuk menerima segala curhatan kami. Apapun itu. Mungkin dari hal tersebut saya merasa, mama bisa berperan tidak hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai teman.

Tapi bicara soal kedekatan anak perempuan dengan ibunya, mungkin di keluarga lain pun sama. Meskipun saya yakin banyak juga anak laki-laki yang dekat dengan ibunya, tapi bagi saya yang seorang anak perempuan, kedekatan itu lebih terasa jika dibandingkan dengan kedekatan saya dengan ayah. Setiap keluarga pasti berbeda ya. Kan ini lagi cerita tentang saya :D hihi

Nggak terasa sudah satu tahun lebih saya nggak bertemu mama. Kangen berat rasanya. Meskipun kami sering mengobrol di telepon, tapi rasanya berbeda saja. Jalan-jalan bersama juga saya rindukan. Sejak jauh dari mama, saya tambah merasakan bahwa kehadiran mama begitu memiliki arti bagi saya. Sering saya katakan bahwa mama adalah sahabat terbaik saya dan hal itu memanglah benar.

Menjadi seorang ibu seperti mama tidaklah mudah dan saya tahu betul bagaimana mama berjuang untuk hidup kami.

Saat ini saya ingin mendekap erat mama dan berkata bahwa mama adalah ibu yang hebat. Hiks...tambah rindu jadinya. Kalau saja pintu kemana saja milik doraemon memang nyata, mau saya pinjam sebentar biar bisa langsung tiba di depan pintu rumah. Hehe

Saya masih harus sabar untuk bisa pulang ke rumah. Masih ada hal yang harus kami perjuangkan disini agar bisa secepatnya bermukim di kampung dan tidak perlu berjauhan dengan orang tua kami. Biarlah sekarang kami sama-sama sabar menahan rindu.  Saya hanya berharap mama, papa, orang tua saya dan suami senantiasa di beri kesehatan dan keberkahan dalam hidup. Saya harus tetap semangat menjalaani kehidupan disini untuk sementara waktu.

Lhokseumawe,

Awal tahun yang mendung ( mendung karena memang lagi gerimis loh :D) tapi meskipun cuaca temaram, saya tetap semangatttt. I miss u mama :D


                                                     sumber gambar: katakutuku.net
[ Read More ]

Sudahkah kita bersyukur hari ini?

Musim hujan begini, membuat kita betah berlama-lama berdiam di balik selimut. Udara dingin seringkali membuat kita malas untuk beraktifitas. Tetapi ada kewajiban yang harus kita kerjakan, so semangattt :D

Biasanya dulu saat dirumah, kalau hujan begini Mama akan membuatkan kami camilan. Entah itu pisang goreng ataupun sekedar merebus singkong. Memang jika cuaca dingin membuat perut kian lapar. Yang tadinya jarang ngemil bisa ngemil terus. Apalagi jika ditambah dengan teh manis hangat ataupun susu cokelat, beuh...mantap.

Tapi saat hujan kemarin ketika saya mencicipi camilan, tiba-tiba saya ingat mereka di luar sana yang mungkin tidak memiliki tempat tinggal. Dulu saat saya pulang kerja, dari jendela bus sering saya melihat manusia gerobak. Saya menyebutnya demikian karena saat itu sudah diatas pulul sepuluh malam dan mereka tidur dalam gerobaknya. Tidak jarang ada juga anak-anak mereka. Saya pernah melihat seorang bapak yang tidur disamping gerobaknya. Dan ada dua bocah yang muncul dari balik gerobak. Tidak punya rumahkah mereka?

Di tambah melihat tayangan tv yang bisa membuat kita berkaca-kaca L sungguh beruntunglah kita masih punya tempat berteduh meskipun mungkin tidak mewah. Ibu saya mengatakan bahwa  nyamannya sebuah rumah tidak selalu dilihat dari seberapa mewahnya. Dan rasanya memang betul. Saya tidak tahu apakah mereka yang tinggal di gerobak merasa nyaman atau tidak. Tidak dipungkiri memang setiap manusia pasti menginginkan tinggal di tempat yang nyaman, mungkin termasuk mereka yang tinggal di gerobak. Tetapi saat saya melihat ada senyum di anak-anak mereka, saya menjadi sedikit bertanya, “apakah mereka masih  bisa menemukan kebahagiaan walaupun kondisinya seperti itu?” entahlah. Yang pasti jika saya ingin membandingkan kondisi mereka dengan kondisi saya, saya sudah pasti harus bersyukur.


                                                       sumber gambar: inspirably.com

 Saya jadi ingat dulu ketika remaja sempat mengeluh tentang kondisi rumah kami yang bocor di banyak sudut. Sempat mengeluh kenapa rumah saya tidak bagus seperti orang lain? Mengapa rumah saya tidak mewah seperti orang lain? Namun kemudian keluhan saya tersebut di jawab oleh mama saya, “masih banyak loh, Teh di luar sana yang ngga punya rumah. Rumah kita kan cuma bocor aja. Ngga apa-apa nanti juga bisa diperbaiki” Saat itu saya hanya diam saja. Tidak sepenuhnya mengamini perkataan mama saya. Tetapi lebih karena saya tidak ingin berdebat saat itu.

Namun kini, saya teringat kembali percakapan kami di masa lampau tersebut. Bahwa memang betul masih banyak orang yang jauh tidak beruntung di banding kita. Jika terus mengeluh untuk sebuah kondisi yang seharusnya di syukuri, rasanya kita tidak tahu diri. Mama saya selalu  mengajari kami jika hidup tidak untuk dikeluhkan tetapi untuk diperjuangakan. Setiap kali kita mengeluh, setiap itu pula kita akan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Dan belum tentu perbandingan kita benar adanya.

Dulu saat saya protes mengapa saya tidak bisa seperti teman saya yang  dengan mudahnya memperoleh sesuatu yang diinginkan, mama berkata pada saya bahwa saya justru harus bersyukur. Mama mengatakan bahwa belum tentu semua yang diperoleh teman saya bisa membuatnya bahagia. Dan jika saya ingin memperoleh sesuatu, saya  harus memperjuangkannya sendiri. Dengan bahasa sederhananya mama berkata, “nanti kalau teteh sudah mandiri, bekerja, bisa membeli apa yang teteh mau. Sekarang sabar dulu, karena mama sebagai orang tua nggak sanggup memenuhi keinginan anak”

                                           

Air mata saya tertahan. Saya merasa kurang ajar sekali pada waktu itu. Mengapa saya harus bertanya hal-hal seperti itu? Rasanya sakit mendengar mama berkata demikian karena beliau tidak bisa memenuhi keinginan kami. Saya langsung menghabur ke pelukan mama. Saya tidak bisa berkata. Terlalu malu untuk mengucap maaf. Saya sudah menyakitinya. Tapi beningnya hati seorang ibu, tidak pernah membuat saya merasa kecil hati. Meskipun tidak terucap, mama selalu memaafkan saya.

Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri akan menjadi pribadi yang mandiri dan mau berjuang untuk meraih apa yang saya inginkan. Saya tidak ingin lagi melihat mama merasa menjadi orang tua yang tidak sanggup memberikan kebahagiaan pada anak-anaknya. Sungguh, Ma jika mama tahu, mama sudah memberi lebih dari cukup untuk kami.
Mama mengajari kami empati. Membiasakan diri kami untuk melihat ke bawah, pada kondisi mereka yang jauh lebih sulit daripada kami. Bahkan pernah mama berkata bahwa apa yang kita miliki sekarang haruslah kita syukuri karena bukan tidak mungkin jika kondisi hidup kita  berubah lebih baik di masa depan, hal ini akan menjadi sebuah kenangan. Pernah merasakan hidup yang penuh perjuangan dan kita akan lebih banyak bersyukur.

Menikmati hidup yang kita jalani sekarang,  bersyukur bahwa sampai hari ini kita masih diberi kesempatan menghirup udara, bersyukur karena kita masih diberi waktu untuk memperbaiki hidup, bersyukur karena kita masih memiliki orang-orang terkasih di samping kita, bersyukur bahwa ternyata hidup kita masih diliputi kebahagiaan, bersyukur itu mudah.

Lhokseumawe, januari 2015

Mama memang bukan seorang filsuf ataupun seorang sarjana pendidikan. Tetapi bagi kami, beliau adalah seorang pendidik yang terbaik untuk kami, anak-anaknya..



[ Read More ]

Gara-gara Jo in-Sung


Ada yang kenal dengan Jo in-Sung? Atau Lee min-Ho? Bagi para penonton drama korea pasti sudah tidak asing lagi, termasuk saya. Hehe

                                

Dibandingkan sinetron dalam negeri, saya lebih suka menonton drama dari negeri ginseng ini. Entahlah, menurut saya drama korea tidak selebay dan sedramatis sinetron kita. Tapi ya, kembali lagi ke pribadi masing-masing  lebih suka menonton yang mana.

Saya ingat, drama korea yang pertama kali saya tonton berjudul Full house yang dibintangi oleh Rain dan Song Hye-kyo. Saat itu saya masih sekolah di SMK. Sejak saat itu, drama korea menjadi semacam tontonan favorit saya. Hingga kini aktifitas saya menjadi ibu rumah tangga, saya masih suka menonton. Jam-jam siang di chanel LBS TV-K drama menjadi favorit saya. Sebatas hiburan saja sebenarnya. Karena saya tidak sehisteris para ABG yang mengidolakan artis korea.

Banyak sinema korea yang memiliki cerita yang menarik. Diluar kebiasaan para artis korea yang suka melakukan operasi plastik, bagi saya drama korea tetap menjadi tontonan yang cukup menghibur. Habisnya, serem kalau lihat sinetron dalam negeri sekarang. Selain judulnya yang aneh, ceritanya pun bagi saya terlalu berlebihan. Memberi efek jangka panjang yang tidak begitu baik untuk para remaja bahkan anak-anak yang menonton. Yang tadinya dimaksudkan untuk menghibur, malah memberi pengaruh buruk. Memang tidak semua tontonan dalam negeri itu buruk, khususnya drama. Karena saya pernah juga menonton beberapa FTV  dan film yang memiliki cerita yang bagus dan tidak terlalu aneh. Itu tandanya, masih ada harapan untuk kita memiliki tayangan hiburan yang bagus sekaligus mendidik. Hanya saja kita sebagai penonton harus cerdas untuk memilih tayangan mana yang sekiranya memberi dampak yang baik.

Bicara drama korea pun sebetulnya ada kelebihan dan kekurangannya. Saya pun tidak mengatakan bahwa semua drama korea itu bagus dan mendidik. Mungkin bagi sebagian penonton remaja, jika tanpa filter, bisa membuat mereka menggemari berlebihan. Seperti mengidolakan para artis korea secara histeris atau mengikuti gaya berpakaian mereka yang tidak sesuai kultur budaya kita.

Tapi sejauh saya suka menonton drama tersebut, ada hal lain yang kemudian membuat saya tertarik. Seringnya mendengar percakapan para pemain drama dalam bahasanya, membuat saya berpikir untuk mencoba belajar bahasa korea. Ketertarikan saya muncul karena seringnya menonton drama tersebut. Lantas apa yang saya lakukan untuk mulai belajar? Saya mencoba memanfaatkan hp android yang saya pakai. Di google play store, saya mencari aplikasi belajar bahasa Korea. Dan taraaa....saya menemukan satu aplikasi yang cukup bagus. Learn korean, learning aplication. Sebuah aplikasi yang berisi lebih dari 800 frasa dan kosakata bahasa Korea. Cukuplah untuk seorang pemula yang ingin belajar secara otodidak. Serunya lagi, aplikasi ini memiliki animasi burung beo yang bisa membantu kita belajar bicara dalam bahasa korea. Jadi kita bisa tahu ejaan dan pengucapan bahasa korea yang benar.
Fiturnya terdiri dari:
-               Frasa dan kosakata yang umum di ucapkan
-               Pengucapan penutur asli
-               Merekam dan membandingkan pengucapan kita
-               Menyimpan dan mengelola frasa favorit kita
-               Mencari frasa dan kosakata yang menggunakan kunci
-               Tidak di perlukan koneksi internet


Jika kita mau mengambil manfaat dari sebuah hal, pasti akan ada hal baru yang bisa kita pelajari. Tidak tertutup kemungkinan, saya pun akan belajar bahasa lainnya. Memang bukan belajar intensif seperti kita mengikuti kursus. Tapi cukup untuk kita memiliki kepuasan tersendiri jika nanti menonton sebuah tayangan dalam bahasa yang berbeda, ada kosakata yang bisa kita pahami. Saya selalu senang belajar bahasa asing. Meskipun kemampuan saya masih bisa dikatakan nol, saya selalu tertarik untuk tahu lebih banyak. Mungkin selain memanfaatkan fitur handphone, untuk selanjutnya saya akan mulai mencari tambahan referensi dari buku atau media lainnya. So, let’s learning by doing :D menyenangkan loh. Biarpun jadi ibu rumah tangga dengan setumpuk pekerjaan rumah, tapi tetap harus berwawasan kan? Jadi emak-emak gaul kan nggak apa-apa toh? Gaulnya kan ikutan up to date belajar bahasa asing :D hihi. Biar ngga kalah sama ABG :D So, ayo semangat belajar :D 
[ Read More ]

Mayana dalam diam #Mayaseries

Ia menggerutu. Desauan angin menceracau menusuk gendang telinganya. Sebuah kesialan kah ia bertemu Nero di alam maya? Atau sebuah anugerahkah yang diberikan Tuhan? Mayana menatap nanar. Dalam bayangan bola mata hitamnya  ada sebuah asa semu. “Ah, dasar kau Nero! Satu waktu, aku ingin kau enyah saja dari setiap sudut labirin otakku! Namun disatu waktu lain aku begitu merindukanmu! Hah, gila!”

Mayana memang sedang mengarah gila sepertinya. Ia sering bicara sendiri pada cermin hatinya. Bukan...bukan sebuah kegilaan. Hanya sebuah perjalanan menuju sebuah celah yang membangunkan dirinya dari tidur panjang. Mengetuk halus setiap ujung syarafnya. Tentang sebuah rasa. Cintakah? Hmmm... Mayana tak mau berpikir.

Ia ditikam buluh perindu. “aku ini bodoh atau memang terlalu pandai untuk membodohi diriku sendiri?” lagi-lagi Mayana bicara pada angin yang enggan menyapanya barang secuil pun. Angkuhnya sang angin membuat Mayana sendu. Ia minta dibisiki sebuah jawab. Tanya itu apa? Dan apakah jawab adalah sebuah penyelesaian dari tanya?

Mayana di paksa jatuh. Ia tersungkur. Mendapati dirinya yang biru lebam. Lukanya tak dapat diraba dan dilihat manusia manapun. Luka itu abstrak namun nyata. “ hei, kau memang penjahat, Nero!”

Jemarimu lentik dan gemulai serta mengandung sebuah unsur kesaktian. Mayana tak pernah berada di alam nyatanya tatkala ia membaca satu  persatu rangkaian kalimat Nero. Berguru pada siapakah kau, hai Nero? Kau memang terlalu pandai untuk membuat seorang Mayana dan puluhan perempuan lain menatap penuh rona. Semua itu karena tuturmu!
Mayana menulis diatas kertas, “apakah sebetulnya laki-laki di dunia ini adalah Nero? Atau lebih tepatnya seperti Nero? Mayana di dera rasa tanya tentang sebuah tanya. Benarkah semua laki-laki sanggup menjadi Nero?
Mayana merengut, membiarkan bibirnya mengulum kesal. Nero...Nero...enyah kau  Nero!

Mayana benci.....tapi ia tak sanggup
Mayana ingin mendaratkan tamparan di pipi Nero, tapi ia tak akan pernah bisa.
Ia tak akan pernah bisa menyakiti Nero di alam nyatanya. Ia tak akan pernah mampu untuk sekedar mengeluarkan umpatan kecil. Mayana yakin Nero akan membuatnya kelu dengan pandangan dinginnya. Tanpa permisi langsung menuju sasaran puncak. Sebuah ruang dimana Mayana bermukim dengan asa semunya.

Ia antara ingin dan tidak untuk mengenyahkan Nero dari bumi hatinya. Ia ingin menikam Nero melalui sebuah pertempuran kalimat. Ya, Mayana hanya akan sanggup menikamnya melalui itu. Ia masih punya sisa kewarasan dan tak akan mungkin melakukan “The real  murder” Bodoh sekali pikir Mayana kalau ia sampai melakukan itu. Lagipula, ia bukan seorang penjahat.

***
Ia menatap orang yang yang sekarang berdiri di depannya. Mayana beradu pandang, “apa maksud kau memelototiku seperti itu, hah?!”
Mayana sebalnya bukan main. Sang interogator itu menatapnya lekat-lekat. Sesungguhnya ia merasa prihatin dengan Mayana. Dalam hatinya ia mengatakan bahwa Mayana adalah seorang perempuan yang sedang berada dalam stres tingkat tinggi! Ia merasa iba. Interogator itu melunak namun ia harus tetap menjalankan tugasnya.

Ah, andai saja Mayana tahu bahwa bapak interogator itu memiliki rasa iba untuknya, Mayana akan marah besar. Ia tak pernah suka orang-orang memberikan rasa iba untuknya. Hanya ia yang boleh memberikan rasa iba untuk dirinya sendiri. Hanya Mayana yang boleh mengasihani dirinya sendiri.

Mayana mendesah. “Manusia aneh kau, Nero!!” arggghh...Mayana ingin kembali normal. Ia tak ingin menjadi manusia abnormal. Mayana hilang dan berubah. Kemanakah Mayana yang penuh dengan rasionalitas dan penuh idealisme? “gara-gara kau, Nero!!”

Nero memang sanggup membuat para wanita memacu detak jantung mereka berjalan cepat sekaligus lambat, tersihir oleh setiap kata dan kalimat. Mayana sungguh ingin tahu bagaimana ekspresi wajahnya ketika ia menerima luncuran kalimat kagum dari para wanita itu. Termasuk Mayana. Mungkinkah ia akan tertawa puas dan merasa menang karena ia ternyata begitu pandai dan berbakat?

Rabb...Mayana tak bisa menemukan dirinya sendiri. Mayana membutuhkan sebuah penjelasan logis. Dan ia tak akan pernah menemukan jawaban logis itu. Semuanya irrasional dan Mayana sadar itu. Ia sendiri yang memutuskan untuk jatuh cinta pada mahluk yang memanggil dirinya Nero dan bergentayangan hanya di alam maya.

Nero adalah misteri. Ia sengaja membuat dirinya menjadi sebuah teka-teki yang menarik minat banyak kaum hawa. Dimanakah ia belajar ilmu yang membuat manusia sekaliber Mayana bisa benar-benar dibuatnya “Deeply struck” ?

Benarkah Mayana amat jatuh cinta pada Nero? Atau hanya pada tulisannya kah? Mayana bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan hatinya. Ia tak tahu Nero. Mayana melupakan soal kriteria fisik yang dibuatnya untuk calon pendamping hidupnya. Ia tak tahu bentuk Nero. Ia hanya tahu Nero seorang jenius pencipta kalimat. Dan Mayana tak peduli pada apa pun. Ia hanya peduli pada kata hatinya yang mengatakan bahwa ia memang benar benar mencintai sang pemilik jari ajaib itu.

Mayana memainkan jemarinya. Sang interogator itu masih berdiri di depannya.
“Masih tidak mau juga kau jelaskan perihal kelakuanmu, hai Nona...”

Mayana seperti kepiting rebus sekarang. Ia memerah dan bergumam, “apa kau bilang? Kelakuanku? Memangnya aku berbuat apa?! Enak saja kau bicara!”
Aku atau dia yang bodoh... Mayana bergumam sengit.

“ Aku tak akan pernah mungkin membunuh Nero! Kau dengar itu?!”
Sang interogator tersenyum kecil.. “cobalah untuk mengelak terus, Nona....kau mengatakan padaku kalau kau tak akan sanggup membunuh Nero karena ia berharga untukmu. Tapi sepertinya kau lupa satu hal, Nona...”

Mayana tampak berfikir. “maksudmu?”
“Cinta seringkali membuat orang kehilangan akal sehat, pernahkah kau mendengar sebuah kasus dimana ada seorang perempuan yang begitu mencintai pria nya lantas membunuhnya dengan alasan karena ia begitu mencintanya?...”

Mayana mendengus. “mana ada...asal bicara saja, anda ini...”
Sang interogator itu meneruskan kalimatnya, “perempuan itu mengatakan ia membunuh pria yang dicintainya karena ia tak rela berbagi dengan perempuan lain. Sepertinya pria itu memiliki banyak penggemar wanita dan perempuan itu  hanya ingin pria itu dimilikinya seorang...kecenderungan memiliki yang amat sangat”

“Hah, gila!!.... ia membunuhnya dan itu berarti ia juga tak akan bisa memilikinya. Hah, otak perempuan itu kacau benar” Ucap Mayana

“Secara logika memang seperti itu. Tapi cinta membuatnya tak bisa berfikir jernih. Ya, mungkin perempuan itu memang memiliki gangguan psikologis. Tapi bisa anda lihat, Nona bahwa mencintai bukan berarti tak bisa menyakiti yang dicintainya itu...jadi mungkin saja anda juga seperti itu..”

Mayana disulut emosi. Ia tersinggung benar dengan ucapanya. Ingin ia memaki orang yang ada dihadapannya sekarang, tapi ia bertahan untuk tidak terlihat bodoh. Ia berusaha untuk menang dan tak membiarkan amarah menguasai dirinya.

“Bapak yang terhormat, sungguh ucapan anda barusan telah menyakiti hati saya. Secara tidak langsung anda mengatakan bahwa saya sama dengan perempuan gila itu bukan? Saya turut prihatin dengan pola pikir anda yang terlalu cepat menyimpulkan. Sepertinya anda memiliki banyak sekali masalah yang membuat anda berburuk sangka!!” Mayana ketus.

Sang interogator itu memerah wajahnya. Tapi ia enggan  menanggapi kalimat Mayana. Sementara itu Mayana tersentak dengan ucapannya sendiri. “bicara apa aku tadi?” Mayana merunut lagi apa yang sudah di ucapkannya sedari tadi. “Maafkan aku, Tuhan yang maha Pemurah. Aku tak bisa mengendalikan emosi dan kegalauanku..”

Mayana terbangun dengan kemarahannya sendiri. Ah, cinta..cinta...cinta....hal yang rumit dan penuh rahasia. Mayana ingin menggapai hal itu.

***
Di depan Mayana tergolek sebuah laptop. Sang interogatornya itu yang memberikannya. Sebelumnya Mayana merengek. Lebih tepatnya memaksa untuk di berikan laptop. Ia mengatakan bahwa ia bisa membuktikan bahwa ia sama sekali tak benar-benar membunuh Nero. Ia juga mengatakan bahwa Nero masihlah hidup dan tak ada luka sama sekali di tubuhnya. Setelah perdebatan yang cukup alot, sang interogator terketuk hatinya untuk mengikuti permintaan Mayana.

Mayana mengelus halus tuts keyboard. Ia memainkan jemarinya sebentar. Dan langsung meluncur membuka pintu dunianya bersama Nero. Setelah memasukan kata sandi, ia masuk ke dalam ruang pribadinya. Matanya bertumbu pada satu pesan masuk baru. Ia mengklik dan ada pesan singkat dari Nero! Sepuluh menit yang lalu. Mayana memberi aba-aba agar polisi itu mendekat. Ia menunjuk pesan dari Nero yang baru sepuluh menit yang lalu diterimanya.

“Nggak mungkin kan orang yang sudah wafat bisa mengirim pesan begini?” tutur Mayana
Polisi itu menaikkan alisnya. “Belum tentu, Nona...bisa saja itu orang lain yang memakai akunnya si Nero itu..”

Mayana mendesah. Aku hafal betul gaya tulisan Nero dan itu memang pesan dari Nero. Bukan orang lain seperti yang dikira polisi itu. Untuk sejenak, Mayana tak menghiraukan polisi itu. Seperti biasanya, ia akan begitu serius membaca kata perkata kalimat Nero. Nero menulis beberapa kalimat untuknya,

“Matahari pagi yang menyembul di bukit damai. Warnanya tak ada yang dapat menyaingi dan mewakili. Ia begitu lembut dan bijak. Dalam pagi yang hangat aku menyapamu, gadis....”

Hanya itu yang ditulis Nero. Tapi model secuil kalimat seperti itulah yang membuat Mayana dan perempuan lainnya terseret ke dalam dunia Nero. Mayana sungguh ingin membalas pesan Nero, tapi di urungkannya. Ia tak ingin polisi itu melihat apa yang akan di tulis Mayana untuk Nero. “mengapa harus ada kau, Nero dalam cerita hidupku” ucap Mayana dalam hati.

Mayana ada dalam diam sekarang. Ia sedang merenungi apa yang sudah terjadi. Ia mengetuk ngetukkan jemarinya. Tiba tiba dia muncul dari ruang chat!
“hai, gadis...apa kabarmu?”
Mayana memicingkan mata. Nero!

Mayana memerintahkan sang polisi itu untuk mendekat. Ia ingin melihat bahwa Nero mengajaknya chat dan sudah tentu itu akan membuktikan bahwa Nero masihlah hidup dan ia tak benar benar membunuh Nero.

“Kau peduli kabarku, Nero?” tulis Mayana
“Sang mawar berduri namun memiliki kelopak indah sedang sedikit ketus rupanya. Kau ragu, hai gadis?”
“Aku meragukan ketulusanmu menghawatirkan aku. Kau penggombal ulung...”
“Haha...terimakasih atas sanjungannya Nona manis....tapi sungguh, aku tak ingin kau meragukanku..
“Jaminan apa yang akan kau berikan agar aku percaya?”

Nero disudut sana tampak merenung. Mayana tak tahu kalau batinnya sedang meronta. Ia memang pernah menjadi penjahat, sebagai pembuktian bahwa ia adalah seorang laki-laki. Tapi bukankah itu cerita lalu? Ritme jantungnya menghentak. Ada selaput tipis yang membayangi hati Nero. Menyelimutinya denga sebuah alur dan rasa. Ia sadar itu dan ia hafal betul apa itu.

“Aku tak bisa memberimu jaminan apa-apa..” ucap Nero singkat.
“Sudah aku duga...” jawab Mayana dengan singkat pula. Mayana berdialog dengan hatinya sendiri. Ia tak boleh percaya pada Nero. Ia sudah merasa bodoh dan ia tak mau lagi menjadi bodoh. Mungkin Nero sedang terbahak di ujung sana, menertawai dirinya yang sudah berhasil menjadi daftar korbannya di dunia maya. Mayana merasa Nero sudah memasukannya ke dalam sebuah ruang dimana ia tak bisa mengeluarkan emosinya secara utuh.

“Mayana...Mayana....” Nero kembali membuka percakapan.
“Kau sudah tahu namaku memang Mayana. Tak perlu kau ulang-ulang begitu..” Mayana sengit

“Aku hanya ingin menyimpan nama itu dalam sebuah kotak ajaib dalam otakku...”
“Bicara apa kau ini, Nero...”

Nero tak langsung mengetik jawaban dari pertanyaan Mayana. Ia bergumam sendiri dan hanya ia yang bisa mendengar kata-katanya. Ia ingin menyimpan sebuah nama yang penuh rona itu dalam sebuah kotak ajaib yang ia sebut sebagai “Kotak Mimpi”

Nero memutuskan menamainya dengan Kotak Mimpi karena baginya Mayana hanyalah sebuah asa yang tak mugkin ia gapai. Perempuan itu ia rasa terlalu indah untuknya. Entah mengapa kali ini ketika ia berhadapan dengan seorang gadis yang bernama Mayana ia tak bisa menunjukkan sisi beraninya seperti ketika ia berhadapan dengan perempuan lain. Di hadapan Mayana ia tak bisa merasa puas dan percaya dengan dirinya sendiri. Mayana terlalu istimewa untuk laki-laki seperti dirinya. Ia mengatakan kalau ia tak akan pernah mencapai kata sepadan berdampingan dengan gadis itu.

Mayana hanyalah sebuah mimpi.
Sementara itu Mayana dalam diamnya bergumam tentang apa yang disebutnya sebagai sebuah Maya. Ia meyakini bahwa Nero adalah sebuah Maya. Ia merasa tak mungkin bisa bersama Nero. Entah mengapa ia kali ini bisa pesimistis seperti itu. Ia merasa Nero terlalu jauh dari jangkauannya. Ia tak hanya akan menjadi miliknya, tapi juga menjadi milik perempuan lain. Ia bukan tipe orang yang suka membagi cintanya dengan perempuan lain.

Sementara Nero? Justru ia tipe laki-laki yang senang membagi rasa dengan banyak perempuan. Luncuran kalimat manis penuh magic tak hanya ia umbar untuk Mayana, tapi juga untuk beratus, beribu bahkan mungkin berjuta perempuan.

Mayana dan Nero makin menjauh. Mereka sedang berkutat dengan persepsinya masing-masing yang mereka ciptakan berdasarkan alam hayal dan pemikiran mereka yang memaksa.

Dua manusia itu rupanya sedang menciptakan jalan cerita cinta mereka masing-masing. Lupakah mereka bahwa ada yang lebih pintar menciptakan sebuah cerita yang sangat mungkin terjadi dan itu semua di luar jangkauan pemikiran mereka!

Ah, tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika DIA, Rabb sang pemilik hati ini sudah berkehendak. Persepsi mereka akan terpatahkan oleh sesuatu yang bernama takdir. Mereka tak bisa lagi mengatakan bahwa Nero begini dan Mayana begitu dan mereka pastilah akan begini dan begitu jika saja Rabb mereka menghendaki mereka berjalan bersama dalam sebuah kondisi yang penuh restu.

Nero dan Mayana ada dalam diamnya masing-masing.
Polisi yang sedari tadi memperhatikan Mayana dan tulisannya di ruang chat mengedikkan bahu. Ia keheranan kaarena dialog Mayana dan orang yang disebutnya Nero itu sungguh terlihat aneh baginya.

“Nona, sejak tadi kuperhatikan isi chat mu, sebenarnya apa yang sedang anda berdua bicarakan? Obrolan yang aneh..”

Mayana tersenyum tipis mendengar kalimat polisi itu.
“Tentu saja dia tak mengerti apa yang kami bicarakan karena bahasa kami berdua memang absurd..” Mayana terkekeh dalam hati. Ia membiarkan saja polisi itu dalam rasa penasarannya.
“Kau masih disitu, May?” Nero kembali setelah ia berada dalam diamnya.
“Aku tak pernah beranjak dari tempatku. Bahkan aku memang tak bisa beranjak. Kau mungkin yang sudah pergi atau memang sebaiknya kau yang memang harus pergi?”

Nero tersenyum simpul. Ia tahu Mayana tak benar benar menyuruhnya pergi. Ia tahu bahwa Mayana tak pernah menginginkannya untuk pergi. Ia tahu apa yang dirasa perempuan itu.

“Ah....” hanya itu yang ditulis Nero
Dan sesaat kemudian Nero menghilang dari ruang chat. Mayana mencoba membuka matanya lebar-lebar dan ia tak menemukan  lagi Nero. Ia pergi. Benar-benar pergi seperti yang diperintahkan Mayana. Ia limbung. Ia tak tentu rasa. Bukan...bukan maksudunya seperti itu. ia tak benar-benar mengusir Nero. Mungkin ia tidak sadar dengan apa yang ditulisnya tadi.

Kerongkongan Mayana serasa tercekat. Ia memang ingin Nero pergi tapi ia tak ingin. Ia tak sanggup Nero pergi. Ia membenci Nero tapi sesungguhnya tak pernah bisa. Dan sekarang karena kalimat Mayana, Nero benar-benar pergi!

Satu sisi Mayana berkata, “Ah, sudahlah May. Tak perlu kau risaukan Nero menghilang. Mungkin ini memang saatnya kau tak melihatnya lagi. Ini saatnya kau keluar dari keabnormalanmu....”

Satu sisi Mayana yang lain berkata, “ Kau sungguh ceroboh May. Kau ini tukang bohong. Kau tak pernah mau mengakui apa yang kau inginkan dan kau rasakan. Kau sudah kehilangan Nero dan kau hanya akan bisa mengatakan...kita baru akan merasa kehilangan kalau kita sudah benar-benar kehilangan...”

Mayana pasrah. Ia tak bisa mengenali dirinya sendiri. Mungkin ia harus benar-benar menyerahkan segala aspek kehidupannya pada-NYA. Ia memang bodoh dan tak tahu apapun. Ia mungkin akan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan mahluk yang bernama Nero. Biarlah DIA yang mengatur urusannya. Lidah Mayana kelu.

“Sial!” kata Nero. Laptopnya tiba-tiba saja mati. Nero belum sempat melanjutkan chatnya bersama Mayana. Ia hanya sempat menulis kata “Ah...” ya, laptopnya memang sering mati sendiri. Mungkin memang sudah seharusnya begitu sebagai ganjaran karena ia sering menempelkan jari jemarinya di tuts keyboard menulis kalimat kalimat gombal yang membuat banyak wanita tertegun.
“Kau pasti berpikir aku benar-benar pergi karena ucapanmu....ketahuilah, May....aku tak akan benar-benar pegi darimu...

***
“Dia benar-benar pergi..” ucap Mayana pada polisi itu
“Maksudmu, Nona?”
Mayana hanya diam dan polisi itu sedang berusaha mencerna kalimat Mayana. “Jangan jangan maksud kalimat Mayana itu untuk mengatakan bahwa pria yang dipanggilnya Nero itu memang sudah mati..kiasan kata pergi itu sebenarnya untuk menyebut mati....” polisi itu hanya menebak saja.

Mayana menopang dagunya. Ia mendesah.



================================================================
Bagi yang belum 'ngeh' dengan alur dan tokoh dalam cerita di atas, yuks disimak :)
Nero dan Mayana adalah tokoh sentral dalam sebuah novel berjudul "Mayasmara" karya Dian Nafi. Sang penulis kemudian mengadakan sayembara menulis novelet dengan menggunakan kedua tokoh tersebut. Mengembangkan cerita dari tokoh tersebut versi kita sendiri.



Dan tulisanku di atas, masuk dalam seleksi dan ikut dibukukan dalam kumpulan cerita yang di beri judul "Mayaseries". Yang belum baca  novel "Mayasmara karya Dian Nafi, bisa berburu bukunya ya ^^ dan bagi yang ingin membaca buku "mayaseries" bisa hubungi penerbit Hasfa via Fb.

                        
[ Read More ]

Ujong Blang, pantai kota Lhoskeumawe

Pantai tentunya menjadi salah satu tempat favorit liburan keluarga. Menikmati camilan sambil duduk di pinggir pantai atau bermain air bersama keluarga menjadi hal yang menyenangkan. Apalagi jika hal tersebut dilakukan setelah jenuh dan lelah beraktifitas. Pikiran menjadi segar kembali dan tentunya semangat baru pun muncul.

Mengingat nusantara ini memiliki wilayah perairan yang luas, sudah tentu di setiap sudut wilayah Indonesia pasti memiliki pantai. Setiap pantai memiliki keindahan tersendiri. Termasuk salah satu pantai yang terletak di kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Masyarakat sekitar biasa menyebut pantai ini Ujong Blang. Ada yang pernah kesini? Atau baru mendengar namanya?

Sedikit cerita, Pantai Ujong Blang terletak kurang lebih tiga kilometer ke arah utara kota Lhokseumawe, masuk di wilayah kecamatan Banda sakti. Dari pusat kota, kita bisa kesana menggunakan kendaraaan pribadi atau becak motor. Sebelum BBM naik, tarif naik becak motor dari jalan Iskandar Muda menuju Ujong blang sekitar 15.000. Jika naik kendaraan pribadi (sepeda motor), mengisi bensin 10.000  pun cukup untuk sampai kesana.

Dari pusat kota, kita tinggal mengikuti jalan menuju Depo Pertamina dan berbelok ke arah kanan. Terus saja mengikuti jalan lurus ini dan nanti kita akan sampai di bibir pantai. Memasuki wilayah pantai, di sepanjang jalan, anda akan disuguhkan pemandangan para penjual ikan. Bau amis akan tercium cukup menyengat. Apalagi jika kita berkunjung ke pantai pada sore hari, para nelayan yang baru saja selesai melaut, akan segera menggelar ikan hasil tangkapan untuk dijual di kios-kios seadanya. Mungkin bagi beberapa orang yang tidak terbiasa dengan hal tersebut, akan sedikit terganggu. Tetapi justru hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi jika kita memang sengaja berniat membeli ikan, pada jam-jam tersebut lah kita akan mendapat harga ikan yang cukup murah.

                            

Keberadaan para nelayan penjual ikan tersebut hanya di sekitar jalan menuju bibir pantai Ujong Blang. Karena pemandangan selanjutnya bukanlah para penjual ikan, melainkan pondok-pondok sederhana beratap rumbia. Yaitu tempat untuk para pedagang menjual makanan. Sekaligus menjadi tempat untuk para wisatawan duduk-duduk sambil menikmati angin pantai. Jika ingin bermain pasir dan berenang, ada ban yang bisa kita sewa. Tetapi jika ingin berenang, tetap harus berhati-hati karena terkadang arusnya kencang.

Di pondok penjual makanan, beberapa  menu murah tersedia. Tetapi yang sering di pesan para wisatawan biasanya Rujak Aceh. Paduan berbagai macam buah dan bumbu kacang yang enak, menambah citarasa rujak ini. Harganya hanya Rp5.000 untuk satu porsi. Berbagai minuman seperti es kepala muda pun hanya Rp7.000 saja. Jika ingin makanan berat, ada berbagai macam mie yang bisa kita pesan.

Namun jika kita ingin menikmati ragam kuliner seafood, di sekita pantai Ujong Blang ada satu rumah makan yang cukup terkenal. Namanya rumah makan Rimbun. Dari luar, bangunan rumah makan tersebut memang terlihat biasa, namun saat masuk kedalam, lumayan nyaman karena kita bisa memilih kursi sesuai dengan yang kita inginkan. Dan tentunya dengan pemandangan yang langsung menghadap laut. Dengan adanya suara deburan ombak dan angin pantai yang segar menambah nikmat susana makan. Tergantung anda para wisatawan, jika ingin makan seafood di Rimbun, sediakan dana yang lumayan. Namun jika dana terbatas, duduk-duduk di pondok sambil menikmati rujak dan es kelapa muda pun sudah cukup.

                           

Tidak ada tarif masuk ke pantai ini. Anda hanya cukup membayar biaya parkir kendaraan saja. Rp2.000 tarifnya. Dan jika hari libur besar, biasanya Rp5.000. Dan pantai ini hanya ramai dari pagi hingga sore hari sebelum waktu maghrib. Karena setelah maghrib, tidak ada aktifitas berdagang lagi dan masyarakat sekitar pun jarang ada yang berkunjung.

Pantai Ujong blang menjadi wisata murah bagi masyarakat sekitar. Hanya satu kekurangan pantai ini, yaitu di sekitar jalan menuju pantai masih terdapat sampah dedaunan yang terbawa angin dan kadang berserakan. Tapi tidak seberapa dibanding dengan kesejukan angin pantai dan pemandangan yang akan kita dapatkan.
Jika anda singgah di kota Lhokseumawe, jangan lupa mampir ke pantai Ujong Blang :D





[ Read More ]