Ninatyo's notes

Berbagi kisah dan rasa

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

Bahagia itu sederhana ^^


Punya mobil mewah, harta berlimpah atau pangkat dan kedudukan tinggi membuat kita bahagia? Jawabannya mungkin bisa jadi iya. Tapi tidaklah mutlak. Jika kebahagiaan diukur hanya dari materi semata, gelaplah pikiran kita. Memang tidak dipungkiri hidup kita membutuhkan materi. Tetapi tidak lantas menjadi patokan apakah seseorang yang hidup dengan berlimpah kemewahan menjadi bahagia.

Bahagia itu sungguh sederhana. Melihat kedua orangtua terharu dan tersenyum ketika menikahkanku, itulah saat bahagia untukku. Mendengar bahwa ibuku bangga memiliki aku sebagai anak perempuannya, itu juga menjadi kebahagiaanku. Juga saat menikah, ketika merasakan bahwa laki-laki yang berada disampingku adalah sosok lembut dan suami yang aku idamkan selama ini, itulah sumber kebahagiaanku.




Sering ibuku berkata bahwa kebahagiaan yang sesunggguhnya adalah saat hati kita merasa damai dan tenang menjalani kehidupan kita beserta orang-orang yang kita cintai.
Aku ingat ibuku yang ketika sepulang dari pasar, selalu membawakan jajanan kesukaanku. Begitu juga ayahku yang selalu memisahkan kue bagianku untuk kemudian disimpan di toples sampai aku pulang bekerja. Dan sekarang suamiku yang juga melakukan hal yang sama. Sepulang dari kantor dan membawakanku bungkusan berisi es kesukaanku yang mungkin harganya tidak seberapa, hal seperti itu bisa menjadi hal yang membuatku bahagia. Bukan karena harga, tetapi bahagia karena rasa syukur. Bersyukur memiliki mereka dalam kehidupanku.

Satu hal yang tidak pernah lupa diucapkan ibuku adalah “Jangan pernah lupa untuk bersyukur”  Ya, mungkin rasa syukur itulah yang membuat kita bahagia. Pernahkah kita melihat seorang pengayuh becak makan nasi bungkus sederhana dengan lahapnya? Mungkin baginya, kenikmatan makan itu adalah hal yang bisa membuatnya bahagia. Bersyukur karena masih bisa mengisi perut.

Bahagia itu sederhana, bersyukur dengan apa yang kita miliki...
Orang tua yang selalu merangkul kita, adik, kakak yang menyayangi kita, suami/istri yang berusaha menjadi yang terbaik. Syukurilah dengan apa yang kita miliki.

[ Read More ]

Let's pray for Rohingya

Negeri ini semrawut, mungkin. Negeri ini penuh dengan orang-orang yang tamak, mungkin ada benarnya juga. Tapi dibalik itu semua, masih ada orang-orang yang memiliki ketulusan hati. Bicara soal negeri kita yang katanya begini dan begitu, kita harus tetap bersyukur masih bisa tinggal di negeri yang aman. Setidaknya untuk beribadah. Tak terbayangkan jika kita menjadi saudara-saudara kita di Palestina atau muslim Rohingya yang terusir dari negaranya sendiri dan terlunta mencari perlindungan.

Beberapa waktu lalu, saya melihat tayangan tv. Ratusan orang berjejalan dalam sebuah kapal, terombang-ambing di lautan demi mencari pelindungan. Ketika mereka hendak ditolong nelayan Aceh sambil berteriak Allahu Akbar, rasanya sedih T_T. Anak-anak, wanita, pria bahkan orang tua pun turut serta. Raut wajah mereka penuh dengan kecemasan. Hati saya meleleh saat melihat tayangan seorang pengungsi shalat dengan damainya ketika di tampung di dalam asebuah masjid. Mungkin ini juga salah satu yang mereka cari. Kenikmatan beribadah tanpa rasa takut. Saya jadi malu. Kenikmatan ibadah yang bisa saya raih di negeri ini tidak benar-benar saya manfaatkan dengan baik. Ibadah saya masih up and down. Melihat mereka sungguh membuat saya tambah malu.

Dalam kondisi teraniaya begitu, mereka masih sanggup mengingat Allah. Ya Allah Ya Rabb, naungi mereka dengan kasih-Mu dan lindungi selalu mereka dari orang-orang yang Dzalim.



Yang membuat saya bertambah sedih adalah saat melihat berita tv, ketika tidak ada yang mau menampung mereka. Bahkan sebelum sampai pun mereka sudah diusir. Dan lebih miris lagi ketika yang mengusir mereka adalah negara muslim, saudara seiman mereka. Bersyukurlah masih ada Aceh yang mau menampung mereka untuk sementara waktu.

Dibelahan bumi ini, masih banyak saudara-saudara kita yang terlunta tanpa tanah air dan terusir dari negaranya sendiri. Muslim Palestina, Chehnya, bosnia, dan lainnya. Lindungi mereka selalu ya Rabb. Mungkin memang belum banyak yang bisa kita lakukan untuk mereka. Tetapi setidaknya ada doa yang masih bisa kita panjatkan. Semoga mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebi baik di sebuah tempat dimana mereka bisa diterima dengan baik. Disambut dengan uluran tangan saudara-saudara mereka.

                                                 sumber gambar:www.suarakarya.id


                                                    sumber gambar; Shotussalam.org


Sampai kapan kita melihat saudara-saudara kita teraniaya? Mungkinkah jika kepedulian umat muslim sekarang ini sudah terkikis? Semoga saja tidak, karena saudara seiman tidaklah melihat warna kulit atau kewarga negaraan. Mereka mengimani Rabb yang sama. Semoga saja ada saat dimana tak ada lagi muslim yang teraniaya.
Daripada negeri ini didatangi para warga asing yang bertujuan merusak moral seperti para pengedara narkoba atau lain-lainnya, lebih baik dihuni saudara-saudara muslim  teraniaya seperti mereka. Mungkin dengan begitu, rahmat Allah akan semakin berlimpah. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?
Ya Allah, lindungi kami dan saudara-saudara seiman kami. Jadikan kami manusia yang bermanfaat bagi saudara kami.
[ Read More ]

Antologi bersama FLP Purwakarta

Pertama kali bergabung dengan Forum Lingkar Pena tepatnya kapan , lupa. Hehe... Yang pasti saat itu, saya di ajak salah seorang teman yang juga hobi menulis untuk bergabung disana. Saya mendengar Forum Lingkar Pena saat SMK. Seringnya membaca majalah Annida dan menemukan cerpen-cerpen bagus yang dimuat, membuat saya semakin jatuh cinta untuk belajar menulis. Saat membaca profil penulis, banyak diantara mereka adalah anggota Forum Lingkar Pena. Jadilah saat teman saya mengajak untuk bergabung, saya mengiyakan.

Beberapa kali pertemuan saja saya bisa bergabung. Sayangnya karena kesibukan saya bekerja dan jadwal bekerja saya pada saat itu, saya lebih sering absen. Padahal pasti ada banyak kajian ilmu yang saya lewatkan. Salut untuk teman-teman saya yang hingga kini masih aktif bergabung dan belajar :) Lanjutkan...

Hingga kini setelah menikah dan sudah tidak menjadi anggota aktif lagi, saya bersyukur pernah ikut belajar dan menjadi bagian dari Forum Lingkar Pena. Eh, ada yang belum hafal Forum Lingkar Pena itu apa? Ini dia linknya. Bisa dibaca ya :D hehehe
https://flpkita.wordpress.com/about/sejarah-forum-lingkar-pena-2/


                                  




Dan sebuah antologi bersama teman-teman FLP menjadi kado bagi saya dan sebuah kenang-kenangan :) Cerpen saya disini judulnya "Tuan besar dan sebuah komedi" Penasaran ingin baca? Yuks dipesan. Hehehe....

Untuk teman-teman yang suka menulis, kita bisa bergabung di grup kepenulisan. Contohnya ya FLP ini. Apalagi sekarang lebih mudah. Via online pun bisa. Di fb ada banyak grup tempat kita bisa belajar. Banyak para penulis handal yang berbaik hati mau memberi ilmunya loh. Yuks manfaatkan itu semua :)







[ Read More ]

Uang dibuang, oh sayang

Pernahkah melihat tayangan berita bahwa seorang sosialita memiliki tas yang harganya puluhan bahkan ratusan juta rupiah? Lalu apa yang terbayang dalam benak kita? kalau saya pribadi langsung berucap, “itu tas yang harganya selangit dibelinya pakai uang betulan ya? Bukan pakai daun kan?” :D hihi


Karena bagi saya, jumlahnya amat banyak. Duh, uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk beli satu tas saja? OMG... Tapi itu memang terjadi. Berbagai tas branded yang menjadi kebutuhan bagi kaum sosialita sejajar harganya dengan benda berharga lainnya. Kalau berlian sih masih mending. Lha ini tas? Hihi.. seorang teman berkata, “Ngapain juga sih lo sibuk ngurusin mereka. Duit-duit mereka kelesss. Berarti mereka memang sanggup beli” Hihi...yoi  mamen, memang urusan mereka ko mau beli tas yang harganya berapapun juga. Ini kan cuma sekedar komentar saja. Karena bagi saya yang tiap bulan harus mengatur keuangan sebaik-baiknya ko rasanya miris ya? Mbok ya duitnya mending dikasih saya aja gitu ya sekian persen dari harga tas :D hihi.. ngareppp. Siapa lu? :D



Dunia perempuan memang banyak perniknya. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Suami pernah berkata, “Jadi perempuan ko ribet banget ya. Banyak keperluannya”  lalu saya timpali, “Eits, nggak semuanya atuh sayang...” Hmm, kembali lagi ke pribadi  masing-masing. Jujur, saya pun suka barang-barang semacam itu. Nggak dipungkiri kadang kalau melihat deretan barang-barang itu di toko rasanya ingin bawa pulang semua. Tapi biasanya saya langsung tarik nafas sambil berkata, “Jauhkan diriku dari godaan belanja...” sambil komat kamit :D

Dan untunglah saya masih bisa meredam keinginan kalau masuk toko. Kalau punya barang-barang branded dan harganya selangit begitu apakah karena gengsi semata ataukah karena memang mereka hobi belanja? I dont know. Mungkin setiap orang punya alasan sendiri. Tapi kalau bicara soal hobi, rasanya jika seseorang sudah suka dan sanggup membeli, uang sudah tidak dipertimbangkan lagi. Kalau orang kaya begitu kali ya. Saking banyaknya uang, bingung mau diapakan lagi. Alternatifnya ya belanja. Mending sumbangin ke saya aja atuh, Pak, Bu kalau bingung uangnya mau dikemanakan :D ngarep lagiiii...

                                 


Dan nggak hanya kaum perempuan saja loh yang punya hobi belanja pada benda yang harganya fantastis. Tapi kaum pria juga. Kalau saya hanya bicara soal perempuan yang punya hobi mahal ko rasanya nggak adil ya? Hihi.. Lagi-lagi saya tahu dari media. Kebanyakan mereka lebih memilih barang otomotif seperti mobil atau motor. Eh, tapi nggak juga deh karena balik lagi ke orangnya suka benda apa. Saya pernah melihat ada seorang pria yang mengoleksi miniatur pesawat dan mainan yang harganya pun tidak kalah mahal. Ckckck... ngences jadinya. Hihi... bukan karena ingin punya juga barang-barang semacam itu. Tapi ngences lihat uangnya yang dibelanjakan para jutawan itu. Hihi :D

Ah, sudahlah. Lama-lama tambah stress nanti ngomongin soal uang para jutawan. Hihi... Sebagai orang yang dibesarkan di keluarga sederhana dan di didik untuk menghargai uang, rasanya bertolak belakang dengan apa yang saya lihat. Rasanya suka sedih aja kalau udah ada tayangan hobi mahal lalu berganti dengan tayangan tv yang mengulas kehidupan kaum miskin. Untuk memperoleh uang yang nggak seberapa saja, mereka harus kerja keras dahulu. Terkadang kerja keras mereka nggak sesuai dengan upah yang mereka dapat. Tapi pilihan mereka hanya satu. Bekerja biar dapur tetap ngebul.

Bersyukurlah kita yang setiap harinya masih bisa makan enak dan nggak perlu bercucuran keringat seperti mereka. Kalau sudah larut dalam tayangan tersebut, saya bisa berkaca-kaca. Saya melihat di tv, seisi rumah hanya makan nasi aking. Hiks..hiks.. apa enak itu ya? Bayangkan dengan harga makanan restoran mewah yang disantap para sosialita? Sudah pasti jauh berbeda. Saya menulis ini tidak ditujukan untuk siapa-siapa. Tetapi pengingat diri saya sendiri. Saat saya akan membelanjakan sesuatu untuk barang-barang yang sekiranya harganya mahal, hal ini menjadi semacam pengingat. Meskipun seandainya saya sanggup untuk membayar harga barang tersebut, tapi rasanya hati saya tersentil. Jika saya membeli sebuah tas mahal, diluar sana masih banyak anak-anak sekolah yang tidak memiliki tas. Bahkan yang murah sekalipun. Pun saat saya akan membeli sebuah alas kaki yang harganya lumayan, saya urungkan karena diluar sana masih  banyak orang yang bertelanjang kaki.

                             
                                       sumber gambar: google.com

Saya memang tidak lantas berhenti belanja sama sekali. Tapi setidaknya mereka menjadi pengingat saya agar tidak memiliki hobi yang berlebihan dan menghabiskan banyak uang ketika membeli sesuatu. Untunglah saya masih memiliki ibu dan suami yang juga selalu mengingatkan agar tidak berlebihan dalam hal apapun termsuk belanja. Ibu saya mengatakan, “Sekalipun kamu sanggup membeli, hendaknya membeli yang wajar-wajar saja. Allah tidak suka orang yang berlebih-lebihan..” Ibuku memang juara  bijaknya.

Lantas kalau ada yang mengatakan. “terus kalau begitu, lu aja yang beliin sana kebutuhan mereka yang miskin kalau lu peduli...” My prennn, memiliki rasa empati adalah awal yang baik. Dan semoga dengan begitu Allah melapangkan rezeki kita untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan dan kalau mau beramal kan nggak harus bilang-bilang juga toh? Hihi :D

Semoga hal seperti ini terus menjadi pengingat untuk saya. Bijak dalam mempergunakan uang dan memiliki hobi. Punya hobi memang bukan sesuatu yang salah. Tapi harus sesuai kemampuan dan tidak berlebihan. Betullll? Kalaupun mungkin ya lebih baik punya hobi yang menghasilkan juga. Yang hobi makan bisa dikembangkan menjadi peluang usaha kuliner. Atau yang suka menggambar bisa buka usaha les melukis mungkin? Punya penghasilan lebih dan bisa dipergunakan untuk hal-hal yang baik seperti membantu sesama akan terasa lebih istimewa dibanding hanya menghambur-hamburkan uang untuk barang yang jumlahnya fantastis :) Kalau ada salah satu artis penggila tas mahal mengatakan bahwa tas yang ia beli itu bagian dari investasi? Hmm, rasanya ada banyak jenis investasi yang lebih terlihat bijak dan nggak berlebihan. Ini menurut saya yang orang awam loh. Hehe. Money oh money...



                                                 



                   
[ Read More ]

Pemilik hati yang seluas samudra yaitu engkau, Ibu

Meskipun perayaan hari ibu sudah lewat cukup lama, tapi rasanya tidak ada kata terlambat untuk membahas tentang ibu. Bagi saya hari ibu tidaklah cukup hanya diperingati hanya dalam satu hari, karena setiap harinya adalah hari ibu. Meilhat perjuangan ibu-ibu kita dalam membesarkan anak-anaknya tentulah membuat kita sadar bahwa ibu adalah sosok yang istimewa.

Jika harus diungkapkan melalui kata, tentunya saya rasa tak akan pernah ada cukup kata untuk menuliskan betapa banyak rasa terimakasih kami untuk ibu. Kami sadar bahwa engkau memiliki hati seluas samudera. Sebuah tempat dimana kami bisa berteduh dan merasa damai. Di moment hari ibu, Pak De Guslix Galaxy, pendiri grup nulis buku bareng Pak Dek yang juga seorang purnawirawan jenderal bintang satu mengadakan kontes unggulan untuk menulis tentang ibu. Dan alhamdulillah, kini telah terbit dalam sebuah buku. Diterbutkan oleh penerbit Sixmidad, Bogor. 125 blogger berkumpul, menulis tentang ibu-ibu mereka. Sebuah persembahan yang akan menjadi kado istimewa untuk ibu.

                         

Membaca lembar demi lembar cerita yang tertuang membuat saya tersenyum sekaligus haru. Semua ibu di penjuru bumi ini memang sosok yang istimewa. Meskipun setiap ibu memiliki caranya sendiri dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya, tetapi intinya ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kehidupan anaknya. Kasih ibu tidak akan pernah putus dan terbatas. Di buku ini, kami tuangkan rasa cinta kami padamu, Bu. Meskipun kami tahu tak akan pernah ada cukup lembaran kalimat untuk bercerita tentangmu, Ibu.

Ibu, mama, umi, emak. Apapun sebutanmu, bagi kami engkau adalah pelita yang akan setia membimbing kami dalam menjalani hidup. Sekalipun rambut engkau telah memutih dan kamipun bertambah tua, bagi engkau kami tetaplah putra putri mungilmu. Kalimat bijakmu, Bu selalu menjadi obat mujarab bagi hati kami yang sedang dilanda gundah. Pun senyumanmu selalu menjadi suntikan semangat untuk kami berjuang lebih baik lagi. Hanya untukmu, Bu... Proudly present, sebuah buku. "Hati ibu seluas samudra" Judul yang apik. Sama seperti dalam kehidupan nyata, hatimu  memang seluas samudra. Bahkan lebih luas dari apa yang kita bayangkan.

                       

“Ibuku bukanlah seorang perempuan lulusan universitas dengan banyak gelar. Pun bukan seorang perempuan yang memiliki karier cemerlang di kantor. Ibuku juga bukan sesorang yang memiliki berlian sebagai pelengkap penampilannya. Namun bagi kami, Ibu adalah ratu di rumah teduh kami, gelar yang kami sematkan untuknya. Ibu adalah seorang perempuan yang berilmu luas dalam mendidik kami, dan Ibu adalah seorang perempuan sederhana dengan kekayaan hati yang tak terbatas. Seorang sahabat, perempuan yang melahirkan kami dan panutan kami dalam menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan ikhlas. I love u mom more than everything... (hal 85, Perempuan dengan senyum lembut itu, Ibuku)   

[ Read More ]

Lovely rain, semoga membawa berkah

Lhokseumawe hari ini diguyur hujan kembali.  Beberapa minggu yang lalu saat hujan deras terus turun, beberapa wilayah disini ada yang kebanjiran. Bahkan kabarnya hingga mencapai ketinggian 3 meter. Duh, tidak terbayang kalau aku tinggal di tempat yang terkena banjir. Kampung halamanku alhamdulillah adalah tempat yang bebas banjir. Dan kemarin saat hujan deras tak kunjung berhenti, air dari halaman belakang rumah pun mulai meluap. Hampir saja masuk ke dapur. Aku mulai panik, takut kena banjir juga. Tapi alhamdulillah air kembali surut.

Jika sudah masuk musim hujan, disini biasanya hujan berlangsung cukup lama dalam sehari. Ditambah pula dengan debit airnya yang cukup tinggi. Ketika pertama kali kesini, sempat kaget melihat hujan yang semacam ini. Hehe. Maklum saja, di kampungku jika hujan tak pernah ekstrem begini.

Bicara soal hujan, dulu saat aku masih kecil dan mendengar suara petir dan halilintar saat hujan deras, mama selalu berkata bahwa aku tidak perlu takut akan hal itu. Cukup membaca doa “Allahumma shoyyiban nafiaa” (Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat) Mama mengatakan bahwa setiap yang Allah turunkan pasti diiringi dengan rahmat. Saat itu aku bertanya-tanya, jika memang hujan itu rahmat, mengapa masih ada orang yang kebanjiran karena turunnya hujan?


                                                  sumber gambar: www.cwaca.com

Kemudian mama menjelaskan kembali padaku bahwa bencana semacam banjir adalah hal yang di tetapkan Allah. Dan jika terjadi bencana, adakalanya manusia memiliki andil terjadinya bencana tersebut. Mama berkata, hutan-hutan yang gundul, tidak mau membuang sampah pada tempatnya atau saluran air yang tidak berfungsi dengan baik bisa menjadi penyebab terjadinya bencana. Bencana bukanlah hanya murka Allah semata. Dan hujan yang turun ke bumi harus tetap kita syukuri.

Aku mulai belajar memahami perkataan mama. Mamaku seorang yang sederhana namun dengan pemikiran yang luar biasa. Beliau menjelaskan rasa penasaranku dengan bahasa yang sederhana. cukup bijaksana menurutku saat setiap kali aku mendengar mama bicara apapun.

Suatu saat ketika beranjak besar, aku mengeluh pada mama. Aku mengatakan bahwa aku ingin segera hujan turun. Saat itu sedang musim kemarau. Rasanya udara menyengat kulit dan minum air banyak pun tidak terasa. Mama kemudian berkata kembali, “Teteh ini ko ngeluh terus sih, kalau lagi panas mau ada hujan. Nah kalau lagi hujan katanya mau panas. Hayooo...” Aku nyengir kuda mendengar kalimat mama. Memang betul juga sih. Hehe... Tapi rasanya bukan aku saja yang seperti itu. Beberapa orang sering mengeluh hal yang sama sepertiku. Tunjuk tangan yang suka mengeluh sepertiku :D hihi

Manusia memang mahluk yang penuh dengan keluhan, termasuk aku. Saat hujan turun dan beberapa wilayah kebanjiran, aku berujar, “kenapa nggak berhenti sih hujan, kan kasian yang kebanjiran” atau saat musim panas melanda, “panas banget nih, hujan turun dong...”  Yah, seperti itulah. Sempat aku juga berpikir bahwa saat musim hujan, kasihan para pedagang es karena dagangan mereka pasti tidak laku. Dan saat musim panas, kasihan pedagang bandrek pasti tidak laku juga. Tapi rupanya aku salah. Pernah aku temui seorang pedagang yang biasanya berjualan es saat musim panas tiba-tiba berubah menjadi pedagang gorengan saat musim hujan. Aku bertanya penasaran dan beliau menjawab, “diatur-atur saja, Neng jualannya. Disesuaikan sama musim. Memang betul kalau musim hujan es kurang peminat. Tapi dapur kan harus ngebul. Jadi ya, mamang cari cara lain untuk jualan”

 Aku tertegun. Allah memang maha pemurah. Disaat aku berpikir kalau pedagang es tidak punya penghasilan saat musim hujan, ternyata Allah membuat mereka berpikir kreatif. Jadi tidak sepenuhnya benar jika musim hujan membawa kesengsaraan. Seperti halnya pedagang bandrek yang tetap ada pembeli meskipun saat musim panas. Rezeki akan tetap bsia diraih selama ada usaha dan keyakinan. Hal itulah yang aku lihat.

Setidaknya dari contoh kecil di lingkungan sekitar, aku banyak belajar. Memang betul apa yang mama katakan. Bahwa hidup bukan untuk dikeluhkan tapi untuk diperjuangkan dan disyukuri. Jika kita sering mengeluh tentang cuaca yang panas atau hujan yang tak kunjung berhenti, rasanya akan habis waktu kita untuk terus mengeluh. Aku ingat kembali apa yang diajarkan mama. Jika hujan turun, lebih baik kita berdoa saja agar Allah menurunkan hujan yang penuh dengan berkah. Dan jika terjadi bencana, kita doakan juga semoga keadaan kembali seperti semula. Pun jika saat musim kemarau panjang melanda dan sawah kita kekeringan, berdoa lah semoga Allah menurunkan hujan yang bisa kembali mengairi sawah-sawah kita. semoga senantiasa selalu ada hal baik yang bisa kita petik dari setiap musim yang  kita alami.


                                    Sumber gambar: daulahislam.com
[ Read More ]